AKREDITASI, KKM, DAN BALANCED SCORECARD DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

Alhamdulillah sekolah tempat saya mengajar (SMPN 3 Langkaplancar, Ciamis) telah diakreditasi pada hari Jum’at dan Sabtu tanggal 7-8 November 2008. Dari akreditasi tersebut saya mendapat manfa’at yang banyak dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan di sekolah, khususnya dalam hal pengelolaan Kurikulum dan Pembelajaran yang berkenaan dengan tanggung jawab saya sebagai PKS Kurikulum, lebih khusus lagi dalam hal pengelolaan pembelajaran dalam kelas yang berkenaan dengan tugas utama saya sebagai guru.
Saya juga telah mendapatkan ilmu yang tak ternilai harganya, bimbingan, pencerahan, serta penyegaran dari para asesor yang telah dengan penuh kesabaran dan ketelian membimbing dan memberikan arahan demi perbaikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah tempat saya mengajar, juga memberikan bimbingan dan dan arahan dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas secara pribadi sebagai sebuah amanah dari Alloh SWT untuk sungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam melaksanakan kewajiban sebagai guru di SMPN 3 Langkaplancar. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya secara pribadi (juga mewakili rekan saya di sekolah) menyampaikan terima kasih kepada para asesor, Yth:
1. Drs. H. Nasir Zaenal H. M.Pd dari Dinas Pendidikan Kab. Tasikmalaya
2. Drs. Cici Nurul Haq, M.Pd. dari Dinas Pendidikan Kab. Garut.

Selanjutnya saya juga akan mengungkapkan sekelumit hasil akreditasi sebagai sampel untuk menjelaskan betapa bermanfa’atnya akreditasi.

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) dan Balanced Score Card
Satu hal yang dulu menjadi pertanyaan dalam hati bagi saya adalah penentuan skala dalam membuat KKM. Sebagai seorang guru pembuatan KKM tentu saja merupakan pekerjaan rutin yang dikerjakan setiap awal tahun pelajaran, namun satu hal yang mudah tapi susah adalah penentuan skala dalam KKM. Mudahnya tentu saja kita dapat menentukan skala untuk tiap indicator hanya dengan menulis angka saja, sulitnya Apa yang menjadi acuan dalam penentuan angka tersebut?. Saya sadar akan hal ini ketika ditanya asesor Yth. Bapak Drs. H. Nasir Zaenal H. M.Pd. : ”How did you determine this value? Were you guessing it?”. (Beliau bicara in english waktu itu, memberi semangat untuk belajar Bhs Inggris juga). Tentu saja tidak bisa mengelak karena memang saya membuatnya dengan guessing saja (menerka). Tentu saja menurut beliau ini menjadi sesuatu yang unmeasurable padahal seharusnya nilai itu didapat dari skala yang jelas.

Contoh untuk matematika (saya mengajar matematika) waktu itu beliau mencontohkan hal dibawah ini:
Standar Kompetensi : Statistika dan peluang
Kompetensi Dasar : Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya
Indikator : Mengurutkan data tunggal, mengenal data terkecil, terbesar dan jangkauan data.
Untuk indicator tersebut dengan menggunakan skala 0-100, akan menentukan nilai kompleksitas, daya dukung, dan intake siswa. Dalam dokumen KKM saya menulis nilai Daya Dukung untuk indikator ini adalah 80.
Singkat cerita beliau mengharuskan menuliskan daya dukung standar/ideal untuk indicator ini kemudian lihat berapa yang sudah dipenuhi dan yang belum kemudian tentukan nilainya dan usulkan kekurangannya untuk menjadi masukan pada RAPBS tahun berikutnya, sehingga tahunberikutnya KKM bisa meningkat.

Hikmah Akreditasi dan Scorecard
Memang dalam manajemen akan lebih terasa mudah dan indah kalau objek yang kita manage adalah measurable. Demikian juga sebagai guru, guru adalah manajer pembelajaran di kelas, tentu saja akan terasa mudah jika dari awal rencana dan indicator keberhasilan dibuat segalanya measurable bukan guessing.
Hikmah dari akreditasi saya jadi ingat kembali pembelajaran tentang balanced scorecard yang diberikan Yth. Bapak Prof. Dr. Augusty Ferdinand, MBA (FE Undip Semarang, Direktur AIG Consulting Jakarta). Saya yakin hasilnya akan lebih baik kalau pendidikan di sekolah dari awal sudah ditentukan targetnya dalam bentuk scorecard, untuk guru tentu saja berawal dari KKM. Untuk itu saya mulai saja coba-coba buat scorecard untuk penentuan KKM. Namun masalahnya kalau benar-benar jujur apakah yakin KKM akan memenuhi tuntutan pemerintah sebesar 75%, jangan-jangan ada di bawah standar UN (5,25 atau 52,5%), mengingat di sekolah saya buku pegangan untuk siswa saja untuk tiga mata pelajaran (B. Indonesia, B. Inggris, dan Matematika) paling 1 buku untuk 5 siswa, sementara bantuan buku sudah tidak ada lagi dari pemerintah, yang ada bse (buku sekolah elektronik) tapi dihitung-hitung kalau dicetak sendiri jatuhnya mahal dan jelas diluar kemampuan sekolah. Semoga tulisan ini menjadi masukan bagi Depdiknas.

Terima kasih
AsepS
Guru Matematika SMPN 3 Langkaplancar

 

NB. Alhamdulillah Senin tanggal 17 November 2008 saya mendapat informasi sekolah kami akan segera menerima bantuan buku, semoga Pendidikan semakin maju..

About these ads

7 Balasan ke AKREDITASI, KKM, DAN BALANCED SCORECARD DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

  1. f heri s mengatakan:

    Salam kang asep … saya lihat anda membuat program analisishasil ulangan ya … tapi kemarin pas ke warnet komputerny payah … jadi gagal download … kelamaan, atau banyak yang pakai. Saya juga ada buat mini program analisis ulhar dengan kemampuan utama mampu mmilah nilai berdasar aspek, dan “menyatukannya lagi”. gara gara orang “pusat” yang suka ubah-ubah aturan. Ada juga program analisis try out yang mampu memeriksa 2 paket soa sekaligus “kayak ynag di UN kemarun”, penghitung KKM juga ada … silakan lihat kelebihan dan kekurangan program yangada pada blog saya …

  2. asepsuhendar mengatakan:

    Kalau yang saya buat sih bukan program, cuma format sederhana saja dilengkapi sedikit rumus, mudah-mudahan saja bermanfa’at.

  3. Sriayu mengatakan:

    Wah Pak Asep makasi banget review akreditasinya ya.
    Kalo di Langkat suse cari asesor akreditasi yang bisa kasi masukan kayak gini. Apalagi d lingkungan departemen agama.

    Info Bapak sgt bermanfaat bt sy dlm menyusun KKM. selama ini ya sama kita… just guess he he he…

    Mampir yo ke t4 q…

  4. Sharing is Fun mengatakan:

    Bisa d share lebih complit ttg indikator penentuan KKM

    • asepsuhendar mengatakan:

      Sampai sekarang saya masih banyak “mengira-ngira” Mba Sri.. kan ada tiga komponen.. intake, tingkat kompleksitas, sama daya dukung (sarana), saya masih belum mendapat standar yg pas.., dibuat sendiri aja..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: