Total Quality Management (TQM) dalam Pendidikan dan UN

Baru-baru ini saya membaca buku Total Quality Management in Education (Edward Sallis, 2002), saya tertarik dengan tulisannya pada bagian penjelasan Education Product (Produk Pendidikan), kira-kira inilah isinya:

Pertanyaan mendasar yang harus dikemukakan diawal ketika kita mencoba untuk memahami tentang mutu adalah pertama ‘Apa produknya?’ dan yang kedua ‘Siapa customer-nya?’. Pertanyaan ini hendaknya juga dipikirkan diawal ketika kita berbicara tentang mutu dalam pendidikan.

Terdapat perbedaan pandangan tentang produk dari pendidikan. Siswa sering kali dipandang sebagai produk/output dari pendidikan, terutama jika kita bicara tentang kinerja institusi pendidikan. Pernyataan bahwa pendidikan ‘menyediakan lulusan’ telah membuat pendidikan seperti suatu proses produksi dengan siswa muncul sebagai hasil akhir dari proses tersebut. Jika selanjutnya kita bicara mutu dari pendidikan dengan memandang pendidikan sebagai sebuah proses produksi, hal pertama agar ada jaminan mutu (quality assurance) adalah perlunya menentukan spesifikasi dan juga mengontrol sumberdaya/input untuk proses produksi tersebut.

Kedua, ‘bahan mentah’ yang masuk kedalam institusi pendidikan agar proses pendidikan memiliki jaminan mutu harus melalui sebuah proses standar dan output harus memenuhi spesifikasi yang didefinisikan sebelumnya. Model seperti itu tidak mudah dicapai dalam dunia pendidikan. Model seperti itu jelas mensyaratkan sebuah proses seleksi awal para siswa yang akan diterima. Beberapa institusi pendidikan dapat melakukan hal ini, namun untuk sebagian besar sekolah tidak mungkin melakukan hal ini (Ia berbicara tentang sekolah di Inggris, apalagi di Indonesia). Dari hal ini kita tahu bahwa meskipun telah dibuat kurikulum dan standar proses pendidikan oleh pemerintah (di Indonesia ada standar Isi, SKL, standar proses, dsb), namun hasil akhirnya tetap sesuatu yang tidak dapat dibuat seragam. Adalah sesuatu yang mustahil untuk memproduksi siswa dengan jaminan standar tertentu yang seragam.  Lynton Gray menulis hal inisebagai berikut:

Human beings are notoriously non-standard, and they bring into educational situations a range of experiences, emotions and opinions which cannot be kept in the background of the operation. Judging quality is very different from inspecting the output of a factory, or judging the service provided by a retail outlet.

Ide bahwa siswa sebagai produk pendidikan mengabaikan kompleksitas dari proses pembelajaran dan keunikan dari tiap-tiap individu pembelajar. Sehingga apa sebenarnya produk pendidikan? Sebelum menjawab pertanyaan ini maka akan lebih baik jika memandang pendidikan sebagai sebuah jasa daripada sebuah proses produksi. Perbedaan andata produk dan jasa sangat penting karena terdapat perbedaan mendasar antara keduanya yang berhubungan erat dengan bagaimana mengukur kualitasnya.

Bagaimana dengan standar kelulusan menggunakan nilai UN? Ada ide tau pendapat?

AsepS

 

Koment di milis Pendidikan Network:

Hermawan Budi Santoso said:

menurut saya, pendidikan adalah sebuah proses. proses untuk menjadikan seseorang (bahkan hewan) untuk menuju sebuah kondisi yang diinginkan oleh si pendidik.

dalam kehidupan, kita mengalami pendidikan untuk menjadi lebih baik. untuk bertahan hidup, bersosialisasi, melanjutkan generasi, mencipta banyak hal demi kemudahan dan kenyamanan kita. singkatnya, untuk meningkatkan taraf hidup kita.

di sekolah, kita mengalami pendidikan untuk mengetahui berbagai hal. rumus yang unik walau kadang rumit, tata bahasa yang baik dan benar, kisah kehidupan manusia, keajaiban alam dan penciptaannya, bahkan budi pekerti.

dan bagi saya…semua itu terserah si pendidik, mau dijadikannya seperti apa anak didiknya. ia bisa menjadikan mereka ensiklopedi berjalan yang tahu banyak hal. bisa juga menjadi ilmuwan kreatif, mencipta banyak hal. ia pun bisa menjadikan mereka seperti seonggok daging yang hanya punya nama dan bisa berjalan tetapi tidak memiliki impian dan kemampuan untuk mengembangkan diri. tetapi ia juga bisa membentuk orang2 yang menyadari bahwa ternyata mereka memiliki sesuatu yang luar biasa dalam diri mereka, membantu mereka untuk menggali dan mengembangkannya, dan akhirnya menjadilah mereka orang2 yang luar biasa.

pendidikan itu tidak terbatas. pendidikan terbaik adalah yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi lebih baik, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi. menembus batas dan bahkan tak terbatas. karena itu jangan pernah membatasi seseorang dalam pendidikannya.

batas minimal UN? entahlah…..ia mungkin sebuah ironi.

bagus karena dengan hal itu berarti menuntut adanya peningkatan kualitas pendidikan. kemudian menjadi buruk bila dalam usaha peningkatan tersebut terdapat usaha2 kotor. sulit menjawab ironi ini.

yang saya tahu…let’s start the evolution from inside ourself. mari belajar, dan mari perbaiki diri menjadi lebih baik. karena semua hal pasti berubah dan harus berubah, tak ada yang abadi. salah satu hal yang abadi dalam hidup adalah perubahan itu sendiri.

 

~hermawan~

 

Risfan said:

Rekan-rekan ysh,

Sdr Asep menyampaikan kesannya atas buku. Sayang kita tidak ikut baca. Tapi judul TQM in Education tampaknya menjanjikan.

Karena tidak ikut baca, tapi disodori opini, maka komentar saya terbatas pada tulisan sdr Asep.

TQM sendiri sebagai alat manajemen saya kira netral dan bermanfaat, terutama untuk perbaikan kualitas proses operasional. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses dan hasil.

Mengenai kata “produk”. Dalam manajemen “produk” itu selalu diartikan sebagai “barang atau jasa” Jadi pendapat sdr Asep yang mengontraskan “produk” vs “jasa” saya pikir kurang tepat. Karena “jasa” itu juga pruduk.

Kedua, menurut pendapat saya. Produk pendidikan ialah jasa. Yaitu “ilmu” (knowledge, skill, attitude/KSA). Dan output adalah KSA yang dikuasai lulusan. Jadi kalau mau mengukur efektivitas manajemen satu sekolah, ya membandingkan KSA yang dikuasai siswa saat lulus dibanding saat mendaftar.

Soal standar mutu pendidikan (KSA), itu mungkin perdebatan yang lain. Pakai standar atau tidak perbandingan penguasaan KSA sesudah vs sebelum sekolah tetap relevan. Ujian tetap perlu, pakai UAN atau tidak.

Salam,
Risfan Munir

Khatib A. Latief said:

Brother Asep,

Saya pikir idea ini cukup menarik dan pada banyak hal saya sependapat.

Walaupun bagi saya pendidikan itu proses sehingga anak didik bukan hanya dianggap sebagai product yang dapat ditentukan menerut pabriknya tetapi juga reosurces! Ini artinya UAN dalam tataran tertentu memili kelemahan, yaitu adanya pengabaian kondisi psikologis anak Will continue later…

 

 

About these ads

4 Balasan ke Total Quality Management (TQM) dalam Pendidikan dan UN

  1. masedlolur mengatakan:

    Maaf Kang Asep, komentar saya terlambat

    Begini, apakah para dewa di Depdiknas
    mereka pembuat kebijakan
    dan para malaikat di DPR RI,
    mereka yang kudu merestui semua kebijakan
    nggak pernah baca buku yang dibaca Kang Asep ya?

    Terimakasih pencerahan dari Kang Asep
    tapi posting saya ihwal UN kan nggak perlu dihapus. Setuju?

    AsepS:
    Setuju Pak.

  2. Aris Hanafi mengatakan:

    Dalam dunia pendidikan kalau kelulusan hanya ditentukan dari UN memang sangat tidak menarik. Saya rasa benar bahwa rentang pemahaman atau kompetensi siswa bisa sangat beragam jika digunakan acuan wilayah se Indonesia. Permasalahan diwilayah negri ini sungguh sangat beragam dan komplek kalau harus disamakan cara penyelesaiaya sesuai kehendak pusat. Sehingga jika standar TQM bisnis menghendaki bahwa produk berkualitas sama dengan variasi error minimal (siswa se Indonesia harus lulus UN) maka jelas ini sangat bertentangan dengan tabiat pendidikan dan kebutuhan kita atas pendidikan bermutu di tanah air.

    Pendidikan berkualitas tidak hanya dihasilkan dari pencapaian nilai UN. Meskipun maksud dari Diknas pusat mungkin agar sekolah terpacu untuk maksimal dalam meningkatkan kualitas pendidikan tapi yang terjadi malah kualitas pendidikan di daerah justru sangat kedodoran dengan adanya kebijakan lulus berdasar UN. Kita tahu bahwa sekolah-sekolah sekarang justru hanya mengejar UN. Di benak siswa juga hanya ada UN. Kejujuran, keunikan, kekreatifan dan kesemangatan dalammencari ilmu tanpa batas justru dibunuh secara sistemik. Mana bisa pendididikan berkualitas kalau begini?

    Saya usul agar UN tetap ada tapi…
    1. Tidak diwajibkan bagi semua sekolah. Bukankah ada KTSP kok diujungnya masih ada UN. Ini cara Jowone diculne ndase ning diidak buntute.

    2. UN hanya diberlakukan wajib bagi sekolah yg tertentu. Misalnya beberapa sekolah negri di tingkat propinsi. Ini hanya sebagai sampling kualitas. Sekolah lain boleh pakai UN boleh tidak. Jangan digebyah uyah.

    3. Nilai UN digunakan mirip seperti skor TOEFL. Skor tinggi menunjukkan kemampuan hebat bidang bhs Inggris, tapi orang masih bisa disebut hebat meski skor TOEFLnya rendah. Karna banyak hal memang tidak ada hubungannya dengan kemampuan menguasai struktur bahasa Inggris. Sama halnya dengan UN. Ada banyak hal lain yang lebih berharga dikuasai dari pada hanya sekedar bisa menjawab soal UN.

    Sayangnya ada jumlah uang sangat besar yang berputar di belakang pelaksanaan UN. Birokrasi pendidikan kita tampaknya tidak pernah melepaskan kesempatan seperti ini. UN adalah proyek pusat. Mereka masih tidak mau melepaskan otoritasnya untuk diserahkan terdesentralisasi di daerah apalagi langsung ke sekolah.

    Bagaimana?

    Silahkan berkunjung ke arismpd. blogspot.com
    Atau ke arishanafi .blogspot.com

    AsepS
    Betul setuju pak, 100% setuju.

  3. dwi mengatakan:

    Konsep TQM yang semula dimaksudkan bagi kalangan industri ini kemudian dipandang mampu diterapkan dalam pembelajaran. Banyak diantara kalangan pendidik mengakui bahwa konsep ini memberikan prinsip-prinsip yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran. Dalam hal ini, Dheeraj Mehrotra dalam artikelnya “Applying Total Quality Management in Academics” menegaskan bahwa guru-siswa merupakan satu tim yang bekerjasama untuk mencapai tujuan, yaitu pengembangan kemampuan siswa, minat, dan karakter mereka. Dalam satu sisi, siswa adalah konsumen guru, yaitu sebagai penerima layanan pendidikan yang disediakan bagi pertumbuhan dan peningkatan diri mereka. Dipandang dari sisi ini, maka guru merupakan ‘pemasok’ bagi kebutuhan belajar siswa, penyedia alat dan sumber belajar, yang menciptakan lingkungan dan sistem belajar yang mendukung secara maksimal bagi upaya pembelajaran siswa. Di sisi lain, siswa juga adalah ‘pekerja’, yang produk utamanya adalah pertumbuhan dan peningkatan dirinya secara terus menerus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: