Resume Tesis

Desember 15, 2009

PENGARUH BUDAYA BELAJAR ORGANISASI, DUKUNGAN MANAJEMEN, DAYA DUKUNG SARANA, DAN KUALITAS PEMANFA’ATAN INTERNET TERHADAP KOMPETENSI GURU

Oleh:

Asep Suhendar

NIM: P2CC06045

Pembimbing:

Drs. Achmad Sudjadi, M.Sc., Ph. D.

Drs. Indratmo Yudono, M.Si.

Abstak

Internet sebagai bagian dari Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah dan akan senantiasa memberi pengaruh terhadap dunia pendidikan, oleh karena itu diperlukan penelitian untuk meninjau peran internet dalam pengembangan kompetensi berkelanjutan bagi para guru. Internet dapat memberikan manfa’at dalam pengembangan kompetensi guru apabila penggunaannya mengarah kepada terbentuknya manajemen ilmu pengetahuan yang berupa kerangka kerja yang menyatukan dukungan manajemen, daya dukung sarana, dan kualitas pemanfa’atannya yang didasari budaya organisasi yang mendukung pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kualitas pemanfa’atan internet berpengaruh terhadap kompetensi profesional, pedagogi dan sosial, dukungan manajemen berpengaruh terhadap kompetensi pedagogik dan kepribadian guru, daya dukung sarana TIK meningkatkan pengaruh kualitas pemanfa’atan TIK terhadap kompetensi guru, dan budaya belajar organisasi berkorelasi positif dengan dukungan manajemen dan kualitas pemanfa’atan internet.

Information and Communication Technology (ICT) especially internet has been giving the massive impact to education world, so it is urgent to observe role of internet in teacher’s competency development. Internet will be giving benefit toward teacher’s competency development only if its usage addresses to form the knowledge management what it is a framework that integrate the management support, ICT supporting facilities and its usage quality in a background of organizational culture. The result of this research shows that the internet usage quality influence teacher’s professional, pedagogic and social competency, the management support influence teacher’s pedagogic and personality competency, the ICT supporting facilities increases the influence of the internet usage quality toward teacher’s professional competency, and the organization learning culture is positively correlated with the management support and the internet usage quality.

Kata Kunci

Internet, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Kompetensi Guru, Knowledge Management, pedagogik, kepribadian, sosial, profesional

Pendahuluan

Pekembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya internet telah dan akan senantiasa memberi pengaruh terhadap dalam dunia pendidikan, karenanya internet sekarang telah dijadikan pendekatan baru untuk pembangunan profesionalisme, pembelajaran, dan pembentukan budaya  berkelanjutan. Dengan pemanfa’atan yang efektif sangat mungkin untuk menjadikan internet sebagai media pengembangan kompetensi berkelanjutan bagi para guru. Peningkatan kompetensi guru dengan memanfa’atkan TIK dapat dicapai hanya jika pemanfa’atannya mengarah kepada terbentuknya manajemen ilmu pengetahuan (knowledge management/KM) yang sistematik  dalam organisasi sekolah (Sallis, 2002, hal. 80). Dalam pelaksanaannya KM dicapai melalui sebuah kerangka kerja yang dapat menyatukan manusia (guru dalam memanfa’atkan TIK), proses (manajemen dan segala prosedur yang terdapat dalam organisasi sekolah), teknologi (sarana dan prasarana TIK), dalam ruang lingkup budaya organisasi sekolah untuk menjamin kinerja dan pembelajaran tetap berjalan dan mendukung pertumbuhan organisasi sekolah (Gorelick at. al., 2004, hal. 8). Lebih lanjut, dari berbagai pemanfa’atan internet yang ada perlu diketahui mana yang paling efektif dalam meningkatkan kompetensi guru.

Mengacu pada identifikasi masalah yang telah disebutkan di atas, maka masalah-masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah budaya belajar organisasi, dukungan manajemen, dan kualitas pemanfa’atan internet berpengaruh terhadap kompetensi guru (pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional)?
  2. Manakah diantara budaya belajar organisasi, dukungan manajemen, daya dukung sarana TIK, dan kualitas pemanfa’atan internet oleh guru yang paling berpengaruh terhadap kompetensi guru?
  3. Kompetensi guru yang manakah diantara kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang paling dipengaruhi oleh budaya belajar organisasi, dukungan manajemen, daya dukung sarana TIK, dan kualitas pemanfa’atan internet oleh guru?

Untuk menjawab semua masalah diatas maka kita perlu memandang sekolah dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dimana sekolah dipandang sebagai sebuah sistem yang memiliki input pendidikan, kemudian mengolah input tersebut dalam bentuk empat proses yaitu (a) proses pengambilan keputusan, (b) proses pengelolaan kelembagaan, (c) proses pengelolaan program, dan (d) proses belajar mengajar, sehingga menghasilkan output berupa pencapaian/prestasi yang dihasilkan oleh proses/perilaku sekolah.

Salah satu proses dalam pendidikan di sekolah adalah proses pembelajaran (kegiatan belajar mengajar) yang dapat digambarkan seperti pada diagram berikut ini:

Gambar 1 Proses Belajar Mengajar

Peningkatan kualitas PBM yang akan berpengaruh terhadap hasil proses pendidikan secara keseluruhan harus dilakukan salah satunya dengan meningkatkan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional guru, seperti dalam diagram berikut:

Gambar 2 KM dalam ruang lingkup pemanfa’atan TIK di sekolah

Dari kerangka kerja KM diatas maka perlu dilakukan upaya konfirmatif untuk meyakinkan bahwa pemanfa’atan TIK khusunya internet di sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru, untuk itu langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyusun model dari kerangka kerja diatas.

Gambar 3 Model awal: Peningkatan kompetensi guru dengan memanfa’atakan internet

Metode

Sebagai upaya konfirmatif terhadap terbentuknya KM dalam pemanfa’atan TIK dengan berdasar kepada model yang dibangun sebelumnya maka dilakukan metode survey dalam penelitian ini. Untuk itu maka dilakukan penarikan sampel dengan menyebarkan kuesioner berbasis web dan manual yang ditujukan kepada semua guru SMP, SMA, dan SMK di Indonesia yang memiliki akses terhadap internet. Kuesioner berbasis web disebarkan dalam media milis, blog, mesin pencari, dan jejaring sosial facebook. Metode pengambilan sampel yang digunakan sampel acak sederhana (simple random sample) dari populasi tak hingga (infinite population).

Dari hasil penarikan sampel selama 3 (tiga) bulan diperoleh sebanyak 152 sampel yang kemudian dianalisis menggunakan Pemodelan Persamaan Struktural (Structural Equation Modeling/SEM). Analisis dimulai dari model awal sebagai berikut:

Gambar 4 Model Awal Persamaan Struktural lengkap (Bagian Struktural dan Bagian Pengukuran)

Dari model awal tersebut ditentukan 4 (empat) variabel laten eksogen, 4 (empat) variabel laten endogen dan 36 variabel manifes. Untuk memberikan kejelasan ditentukan definisi variabel laten eksogen sebagai berikut:

  1. Budaya Belajar Organisasi adalah segala kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam organisasi (sekolah) dalam upaya menyerap, mengambil, dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan praktek-praktek yang unggul, baik dalam ruang lingkup individu warga sekolah maupun organisasi (sekolah). Untuk mengukur ini maka digunakan beberapa 6 (enam) variabel manifest yang didasarkan pada pendapatnya Gorelick dkk. (2004).
  2. Dukungan Manajemen adalah struktur, kebijakan, prosedur, aturan, kepemimpinan, dan kegiatan pengembangan yang ditetapkan “manajer” sekolah yang berkaitan dengan TIK (Gorelick dkk., 2004).
  3. Daya Dukung Sarana adalah kemampuan sekolah untuk menyediakan fasilitas kepada guru untuk memanfa’atkan TIK. Dalam model yang diusulkan dalam penelitian ini variabel daya dukung sarana ditempatkan sebagai variabel eksogen, namun berdasarkan hasil estimasi yang akan dibahas dimuka variabel daya dukung sarana mendukung model fit hanya jika dijadikan variabel perantara (moderating).
  4. Kualitas Pemanfa’atan Internet adalah tingkatan pemanfa’atan internet oleh guru. Tingkatan pemanfa’atan tersebut merujuk pada 6 kategori pengguna internet dalam buku Groundswell yang ditulis Charlene Li dan Josh Bernoff (2007).

Selain itu didefinisikan variabel laten endogen berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, yaitu:

  1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.
  2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
  3. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat.
  4. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Estimasi parameter dalam analisis dilakukan dengan menggunakan program computer AMOS 7, dan penilaian overall model fit dengan berbagai kriteria penilaian model fit diterapkan untuk melihat kesesuaian model dengan populasi yang diwakili data sampel. Ukuran fit menggunakan Likelihood-Ratio Chi-Square Statistic, GFI, RMSEA, dan AGFI.

Hasil dan Pembahasan

Model awal yang daijukan ternyata tidak memenuhi criteria model fit, sehingga dilakukan modifikasi model berdasarkan teori yang mendukung. Modifikasi model dilakukan dengan membentuk unsur-unsur knowledge management yang dinyatakan Gorelick dkk. (2004) sebagai sebuah kerangka kerja yang berlapis, dimana variabel Daya Dukung Sarana TIK (DDS) merupakan penunjang bagi dalam berjalannya knowledge management, sehingga akan lebih tepat jika variabel daya dukung sarana TIK dijadikan variabel moderating, seperti diagram berikut ini:

Gambar 5 Knowledge Management = people and process in a background of organizational culture dan teknologi sebagai moderating variable

Untuk itu  model struktural perubahan yang pertama yang diajukan digambarkan seperti model berikut:

Gambar 6 Model Struktural Knowledge Management dalam ruang lingkup pemanfa’atan TIK di sekolah (hasil modifikasi model awal)

Dari hasil analisis diperoleh model akhir sebagai berikut:

Gambar 7 Hasil estimasi model terakhir hasil dimodifikasi yang memenuhi kriteria model fit

Dari hasil estimasi diperoleh nilai Chi-Square 408,920 untuk df 366, dan probabilitas 0,060 (diatas tingkat tingkat signifikan 0,05), selain itu uji model fit RMSE memenuhi kriteria model fit, sehingga model memenuhi kriteria fit.

Semua regresi signifikan berdasarkan uji t seperti terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1 Regression Weights dari hasil estimasi model akhir

Estimate S.E. C.R. P Label
Kompetensi Profesional <— Kualitas Pemanfa’atan Internet ,985 ,285 3,455 *** par_4
Kompetensi Profesional <— Dukungan Manajemen ,375 ,141 2,667 ,008 par_5
Kompetensi Sosial <— Kualitas Pemanfa’atan Internet ,674 ,202 3,341 *** par_6
Kompetensi Pedagogik <— Kompetensi Profesional ,514 ,144 3,564 *** par_27
Kompetensi Pedagogik <— Kualitas Pemanfa’atan Internet ,471 ,221 2,128 ,033 par_28
Kompetensi Kepribadian <— Kompetensi Sosial ,446 ,139 3,202 ,001 par_29
Kompetensi Kepribadian <— Dukungan Manajemen ,249 ,100 2,479 ,013 par_30

Selanjutnya melihat pengaruh daya dukung sarana dalam model diatas dengan menjadikan daya dukung sarana TIK sebagai variabel moderating. Untuk tujuan tersebut maka data dibagi dua kelompok, daya dukung sarana tinggi dan daya dukung sarana rendah berdasarkan nilai ketiga variabel manifest (x10, x11, dan x12) untuk variabel laten Daya Dukung Sarana. Dari hasil pengelompokan diperoleh 106 sampel masuk di kelompok DDS tinggi dan 46 sampel masuk di kelompok DDS rendah.  Berikut ini perbandingan hasil estimasi dengan menempatkan daya dukung sarana TIK sebagai variabel moderating (bagian yang ditutup nilainya tidak signifikan berdasarkan uji t) berikut ini:

Table 2 Perbandingan hasil estimasi Regression Weight untuk dua kelompok sampel (DDS tinggi = hi, dan DDS rendah = lo)

hi lo
Estimate P Estimate P
Kualitas Pemanfa’atan Internet <— Budaya Belajar Organisasi ,343 ,019 ,433 ,070
Dukungan Manajemen <— Budaya Belajar Organisasi ,248 ,169 ,316 ,157
Kompetensi Profesional <— Kualitas Pemanfa’atan Internet 1,759 ,019 ,580 ,010
Kompetensi Profesional <— Dukungan Manajemen ,150 ,311 ,715 ***
Kompetensi Sosial <— Kualitas Pemanfa’atan Internet ,801 ,040 ,331 ,038
Kompetensi Kepribadian <— Dukungan Manajemen ,167 ,264 ,301 ,017
Kompetensi Pedagogik <— Kompetensi Profesional ,048 ,934 ,506 ,003
Kompetensi Pedagogik <— Kualitas Pemanfa’atan Internet 1,579 ,221 ,065 ,573
Kompetensi Kepribadian <— Kompetensi Sosial ,444 ,152 ,333 ,046

Berdasarkan hasil analisis diatas diatas maka dapat diketahui beberapa hal penting yaitu:

  1. Kualitas pemanfa’atan TIK diukur paling signifikan dari kualitas pemanfa’atan forum diskusi dan milis (x16) dan kualitas pemanfa’atan blog (x17). Berdasarkan hasil ini maka untuk meningkatkan kualitas pemanfa’atan TIK guru sebaiknya para pengambil kebijakan menganjurkan guru untuk berfartisifasi dalam forum diskuli dan milis, dan pemanfa’atan blog, sesuai dengan penelitian William F. Brescia, Jr. dan Michael T. Miller (2006) yang berjudul “What’s it Worth? The Perceived Benefits of Instructional Blogging”.
  2. Dari hasil analisis kompetensi pedagogik diketahui bahwa yang paling tinggi mengukur kompetensi pedagogik adalah upaya menerapkan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran (y3). Oleh karena itu guru memiliki kewajiban agar memberikan pembelajaran kepada siswa dengan berbagai jenis metode pembelajaran sesuai dengan pendapat Sallis (Sallis, 2002, hal. 30) tentang cara untuk mencapai total quality bagi institusi pendidikan.
  3. Kompetensi kepribadian diukur dengan 3 (tiga) variabel manifest dan yaitu keteladanan, etos kerja, dan percaya diri, dan yang paling signifikan adalah terutama etos kerja (y10).
  4. Upaya peningkatan keilmuan yang dilakukan oleh guru (y16) terbukti merupakan variabel manifes yang paling signifikan mengukur kompetensi profesional guru.
  5. Dalam hasil penelitian ini muncul hubungan antar kompetensi guru yang tidak dihipotesiskan terlebih sebelumnya. Jika kita merujuk pada kisi-kisi variabel manifest untuk varibael laten endogen yang diambil secara langsung dari Kepmendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Akademik dan Kompetensi Guru maka dapat diketahui bahwa beberapa unsur dari kompetensi pedagogik merupakan akibat langsung dari kompetensi unsur yang ada dalam kompetensi profesional, selain itu unsur dalam kompetensi sosial berkaitan erat kompetensi kepribadian.

Simpulan dan Saran/Implikasi

Berdasarkan pada hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Budaya belajar organisasi di sekolah tidak terbukti berpengaruh langsung terhadap kompetensi guru, namun berkorelasi dengan dukungan manajemen dan kualitas pemanfa’atan internet,
  2. Dukungan Manajemen sangat berpengaruh terhadap kompetensi Pedagogi dan Kepribadian guru dalam sekolah yang memiliki Daya Dukung Sarana TIK yang rendah,
  3. Daya Dukung Sarana TIK tidak berpengaruh langsung terhadap kompetensi guru, namun meningkatkan pengaruh Kualitas Pemanfa’atan Internet terhadap kompetensi guru,
  4. Kualitas Pemanfa’atan Internet oleh guru berpengaruh sangat tinggi terhadap Kompetensi Profesional dan Sosial guru dan pengaruhnya bertambah besar pada sekolah dengan Daya Dukung Sarana TIK yang tinggi,

Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti menyarankan:

  1. Pemerintah, Dinas, Lembaga Pendidikan (Sekolah) dan instansi terkait diharapkan dapat memanfa’atkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya Internet dalam meningkatkan kompetensi guru terutama kompetensi profesional dan sosial.
  2. Guru senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam pemanfaatan TIK khususnya internet untuk meningkatkan kompetensinya.
  3. Milis (mailing list) dan web blogging merupakan indikator yang paling tinggi yang menggambarkan kualitas pemanfa’atan TIK oleh guru, oleh karena itu Pemerintah, Lembaga Pendidikan (Sekolah), instansi terkait harus memberikan dorongan agar guru aktif dalam aktifitas milis dan web blogging dan guru juga harus senantiasa proaktif dalam aktifitas pemanfa’atan internet tersebut.

Daftar Pustaka

Abbitt, J.A. and Mitchell D. Klett. 2007. Identifying Influences on Attitudes and Self-Efficacy Beliefs Towards Technology Integration Among Pre-Service Educators. Electronic Journal for the Integration of Technology in Education (6, 2007). College of Education, Idaho State University. (Online) http://ejite.isu.edu/, diakses tanggal 12 Mei 2008.

Aseltine, J. M., Judith O. Faryniarz and Anthony J. Rigazio-DiGilio. 2006. Supervision for Learning : A Performance-Based Approach to Teacher Development and School Improvement. ASCD, Virginia.

Brescia, W. F. and Michael T. Miller. 2007. What’s it Worth? The Perceived Benefits of Instructional Blogging. Electronic Journal for the Integration of Technology in Education (5, 2007). College of Education, Idaho State University. (Online) http://ejite.isu.edu/, diakses tanggal 10 Mei 2008.

Carboni, L.W. and Jan J. Riggsbee. 2007. ‘We needed support and it was out there:’ Building an Online Learning Community with Cooperating Teacher. Electronic Journal for the Integration of Technology in Education (6, 2007). College of Education, Idaho State University. (Online) http://ejite.isu.edu/, diakses tanggal 12 Mei 2008.

Chan, A. and Mark J. W. Lee. 2007. We Want to be Teachers, Not Programmers: In Pursuit of Relevance and Authenticity for Initial Teacher Education Students Studying an Information Technology Subject at an Australian University. Electronic Journal for the Integration of Technology in Education (6, 2007). College of Education, Idaho State University. (Online) http://ejite.isu.edu/, diakses tanggal 12 Mei 2008.

Dubois, D. D., William J. Rothwell, Deborah J. K. Stern and Linda K. Kemp. 2004. Competency-Based Human Resource Management. Davies-Black Publishing, Palo Alto.

Sallis, E. 2002. Total Quality Management in Education. Kogean Page, London.

Ghozali, I. 2005.  Model Persamaan Struktural. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

________ . 2008.  Structural Equation Modeling. Teori, Konsep, dan Aplikasi dengan Program LISREL 8.80. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Gorelick, C., Nick Milton and Kurt April. 2004. Performance Through Learning: Knowledge management in practice. Elsevier Inc., Burlington.

Goldenberg, C. 2004. Successful School Change: Creating Settings to Improve Teaching and Learning. Teacher College Press, New York.

Hodges, T. K. 2002. Linking Learning and Performance. Butterworth–Heinemann, Boston.

Huss, J. A. 2007. Web-Based Teacher Preparation Programs and Elementary Education: Will Principals Hire These Teachers?. Electronic Journal for the Integration of Technology in Education (6, 2007). College of Education, Idaho State University. (Online) http://ejite.isu.edu/, diakses tanggal 12 Mei 2008.

Kartajaya, H. 2008. New Wave Marketing, The World is Still Round, The Market is Already Flat. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

McLaughlin, M. W. and Jhon E. Talbert. 2006. Building School-Based Teacher Learning Communities: Professional Strategies to Improve Student Achievement. Teachers College Columbia University Press, New York.

Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2005. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Orvis, K.L. and Andrea L.R. Lassiter. 2007. Computer-Supported Collaborative Learning: Best Practices and Principles. Information Science Publishing, New York.

Phillips,P., John Wells, Philip Ice, Reagan Curtis and Rachel Kennedy. 2007. A Case Study of the Relationship Between Socio-Epistemological Teaching Orientations and Instructor Perceptions of Pedagogy in Online Environments. Electronic Journal for the Integration of Technology in Education (6, 2007). College of Education, Idaho State University. (Online) http://ejite.isu.edu/, diakses tanggal 12 Mei 2008.

Redish,T. and Tak C. Chan. 2007. Technology Leadership: Aspiring Administrators’ Perceptions of Their Leadership Preparation Program. Electronic Journal for the Integration of Technology in Education (6, 2007). College of Education, Idaho State University. (Online) http://ejite.isu.edu/, diakses tanggal 12 Mei 2008.

Renninger, K. A., and Shumar, W. 2004. Building Virtual Communities: Learning and Change in Cyberspace. Cambridge University Press, Cambridge.

Sallis, E. 2002. Total Quality Management in Education. Kogan Page Ltd., London.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Alfabeta, Bandung.

Williams, R. L. 1994. Essentials of Total Quality Management. AMACOM, New York.


Undangan Partisipasi Survey

Mei 6, 2009

Kepada Yth.
Bapak/Ibu Guru

Assalamu’alaikum wr. wb.
Sebelumnya saya mohon ma’af jika tulisan ini membuat anda kurang berkenan. Saya Asep Suhendar, guru SMP Negeri 3 Langkaplancar Ciamis, yang saat ini sedang menempuh Program Pascasarjana Magister Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman. Saat ini saya sedang melaksanakan penelitian tesis saya yang berjudul:
PENGARUH BUDAYA BELAJAR, DUKUNGAN MANAJEMEN, DAYA DUKUNG SARANA, DAN KUALITAS PEMANFA’ATAN INTERNET TERHADAP KOMPETENSI GURU
Untuk itu melalui tulisan ini saya mengundang Bapak/Ibu Guru untuk dapat berpartisipasi dengan mengisi angket di http://research.asepsuhendar.info/index.php?sid=49316&lang=id . Mohon ma’af karena dalam angket tersebut Bapak/Ibu akan diminta memasukan nama dan email, saya tidak bermaksud untuk mengumpulkan identitas Bapak/Ibu, proses ini sudah ada dalam software survey yang saya gunakan untuk menjamin keunikan jawaban.
Dalam beberapa kasus email konfirmasi keikutsertaan survey masuk dalam folder JUNK/SPAM/BULK, mohon Bapak/Ibu untuk memeriksa folder tersebut jika email konfirmasi tidak muncul.
Demikian undangan ini, dan saya sampaikan terima kasih atas partisipasi Bapak/Ibu sekalian.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Asep Suhendar
http://asepsuhendar.info
SMP Negeri 3 Langkaplancar Ciamis
——————————–
Gambaran Penelitian:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam organisasi sekolah dalam upaya menyerap, mengambil, dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan praktek-praktek pembelajaran (Budaya Belajar), struktur, kebijakan, prosedur, aturan, kepemimpinan, kegiatan pengembangan yang ditetapkan “manajer” sekolah yang berkaitan dengan TIK, daya dukung sarana TIK, dan tingkat pemanfa’atan internet oleh guru berpengaruh terhadap perkembangan kompetensi guru (pedagogik, sosial, kepribadian, dan professional).
Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibuat angket secara online dan data akan menjadi diolah dengan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menemukan model terbaik yang menggambarkan hubungan dari setiap variabel penelitian.
Harapan akhir dari penelitian ini adalah dapat ditemukan peta dan kerangka kerja pemanfaatan internet bagi peningkatan kompetensi guru, sehingga dapat menjadi masukan bagi sekolah kami khususnya, Pemerintah, Dinas, dan instansi terkait, juga pihak lain yang berkepentingan dengan masalah ini.
Ket: Angket berisi 37 pertanyaan


Lima Tuntutan Bagi Guru untuk Meningkatkan Kompetensinya

Januari 22, 2009

Membaca bukunya Edward Sallis (2002) yang berjudul TQM in Education saya menjadi tergerak untuk menuliskannya disini:
Paling tidak terdapat lima alasan yang melatar belakangi pentingnya guru untuk meningkatkan kompetensi, yaitu alasan moral, alasan professional, alasan kompetitif, alasan akuntabilitas, dan alasan formal, yaitu:
1. Alasan moral
Para siswa, orang tua dan masyarakat berhak atas mutu terbaik pendidikan. Ini adalah landasan moral di dalam pendidikan. Untuk itu menjadi tugas guru sebagai profesional bidang pendidikan untuk menyediakan pelayanan yang terbaik.
Alasan inilah yang yang memanggil jiwa Ibu Muslimah dalam Laskar Pelangi untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada siswanya.

2. Alasan professional
Profesionalisme menyiratkan suatu dan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dengan melaksanakan praktek-praktek pedagogis paling sesuai. Untuk itu tugas guru untuk memberikan praktek-praktek pedagogis unggul sesuai dengan standar yang ditentukan.
Rekan guru, saya berharap kita dapat berbagi tentang metode mengajar juga praktek pedagogis lain yang unggul di milis ini.

3. Alasan kompetitif
Sebagaimana dalam dunia komersial, dalam pendidikan juga terdapat kompetisi. Oleh karena itu para pendidik dan staf kependidikan dihadapkan pada tantangan kompetisi, untuk itu maka lembaga pendidikan dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kurikulumnya.

4. Alasan Akuntabilitas
Guru memiliki tuntutan akuntabilitas mencakup kejelasan tujuan dan outcome dari hasil pembelajaran yang terukur oleh masyarakat.

Keempat alasan diatas dikemukakan oleh Sallis (2002) dalam bukunya “TQM in education”, namun tentu saja bagi kita ada alasan formal yang menuntut upaya kita meningkatkan kompetensi.
5. Alasan Formal
Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, juga Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru adalah alasan formal yang mendasari kewajiban guru untuk senantiasa meningkatkan kualitasnya.

Alasan formal merupakan kristalisasi dari keempat alasan diatas dalam bentuk peraturan/perundang-undangan. Tentu saja banyak dari aktifitas guru untuk meningkatkan kompetensi dirinya yang tidak ter-cover oleh peraturan/perundang-undangan karena belum ada peraturan yang dapat meinventarisirnya. Dalam keadaan seperti ini empat alasan sebelumnya hendaknya menjadi rujukan kita sebagai guru untuk tetap meningkatkan kualitas pembelajaran.

Asep Suhendar
SMPN 3 Langkaplancar Ciamis

http://asepsuhendar.info