Math Lab: Sphere (Volume dan Luas Permukaan Bola)

Februari 13, 2009

Ini percobaan untuk menentukan volume bola:

  1. Siapkan sebuah wadah yang berbentuk setengah bola berjari-jari r (siswa saya menggunakan bola pingpong yang dibelah, r sekitar 1,75cm) dan sebuah wadah yang berbentuk kerucut berjari-jari r dan tingginya 2r (siswa membuat sendiri tinginya berkisar antara 3,5cm)).
  2. Isikan pasir ke dalam kerucut sampai penuh.
  3. Pindahkan pasir di dalam kerucut ke bola. Apakah yang terjadi?

foto007

clicks7611

dsc00070

dsc00057

foto003

Praktikum matematika dengan metode CTL, meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam geometri.

AsepS

Guru Matematika – SMPN 3 Langkaplancar Ciamis


Math Videos Karya Temanku

Februari 10, 2009

Ini alamat situs video-video pembelajaran karya temanku:

- http://www.watchmath.com/

Materi ringan di:

Dibuat oleh htpp://albarra.net

Terima kasih

Semoga Bermanfa’at


Lima Tuntutan Bagi Guru untuk Meningkatkan Kompetensinya

Januari 22, 2009

Membaca bukunya Edward Sallis (2002) yang berjudul TQM in Education saya menjadi tergerak untuk menuliskannya disini:
Paling tidak terdapat lima alasan yang melatar belakangi pentingnya guru untuk meningkatkan kompetensi, yaitu alasan moral, alasan professional, alasan kompetitif, alasan akuntabilitas, dan alasan formal, yaitu:
1. Alasan moral
Para siswa, orang tua dan masyarakat berhak atas mutu terbaik pendidikan. Ini adalah landasan moral di dalam pendidikan. Untuk itu menjadi tugas guru sebagai profesional bidang pendidikan untuk menyediakan pelayanan yang terbaik.
Alasan inilah yang yang memanggil jiwa Ibu Muslimah dalam Laskar Pelangi untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada siswanya.

2. Alasan professional
Profesionalisme menyiratkan suatu dan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dengan melaksanakan praktek-praktek pedagogis paling sesuai. Untuk itu tugas guru untuk memberikan praktek-praktek pedagogis unggul sesuai dengan standar yang ditentukan.
Rekan guru, saya berharap kita dapat berbagi tentang metode mengajar juga praktek pedagogis lain yang unggul di milis ini.

3. Alasan kompetitif
Sebagaimana dalam dunia komersial, dalam pendidikan juga terdapat kompetisi. Oleh karena itu para pendidik dan staf kependidikan dihadapkan pada tantangan kompetisi, untuk itu maka lembaga pendidikan dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kurikulumnya.

4. Alasan Akuntabilitas
Guru memiliki tuntutan akuntabilitas mencakup kejelasan tujuan dan outcome dari hasil pembelajaran yang terukur oleh masyarakat.

Keempat alasan diatas dikemukakan oleh Sallis (2002) dalam bukunya “TQM in education”, namun tentu saja bagi kita ada alasan formal yang menuntut upaya kita meningkatkan kompetensi.
5. Alasan Formal
Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, juga Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru adalah alasan formal yang mendasari kewajiban guru untuk senantiasa meningkatkan kualitasnya.

Alasan formal merupakan kristalisasi dari keempat alasan diatas dalam bentuk peraturan/perundang-undangan. Tentu saja banyak dari aktifitas guru untuk meningkatkan kompetensi dirinya yang tidak ter-cover oleh peraturan/perundang-undangan karena belum ada peraturan yang dapat meinventarisirnya. Dalam keadaan seperti ini empat alasan sebelumnya hendaknya menjadi rujukan kita sebagai guru untuk tetap meningkatkan kualitas pembelajaran.

Asep Suhendar
SMPN 3 Langkaplancar Ciamis
http://asepsuhendar.info


Software Pendidikan

Januari 7, 2009

Bagi-bagi info software pendidikan, siapa tahu bermanfaat:

1.       PD English-Indonesia      — Kamus Ind Inggris/Inggris Ind, untuk di HP (java) –Lokasi : http://www.getjar.com/products/13709/PDEnglishIndonesia

2.       Terjemahan Al-Quran di HP         —  http://www.getjar.com/products/17457/Terjemah30juzQuraninIndonesian (dan banyak yang lainnya di lokasi ini)

3.       Teacher control panel    — melihat pekerjaan siswa (di komp. siswa) dari computer guru (computer harus terhubung dengan LAN dan terinstal server vnc di server) di http://sourceforge.net/projects/teachercp/ .

4.       Ventrilo                                — program VoIP, bisa untuk komunikasi suara antar computer, bisa text to speak (mengirim teks terdengar suara), http://www.ventrilo.com; ada versi gratisnya untuk 8 komputer.

5.        Kalkulator scientific di HP – lokasi: URL http://www.electronicfiles.net/files/8350/kalkulator_2.zip  

6.       Centre                                  — Student Management System berbasis web (php), termasuk laporan untuk orang tua, http://nixbit.com/cat//information-management/centre/

 

Wassalam

AsepS


Multiple Intelligence Howard Gardner

Desember 6, 2008

Gardner (1983):
Manusia memiliki kemampuan intelegensi yang bervariasi antara 7 kemampuan dasar ini: Linguistics, Spatial, Logical mathematics, Music, Intra-Personal, Inter-Personal, dan Bodily Kinetics.

Menurut saya UN hanya mengakomodir sebagian lingustics dan logical mathematics. Dapatkah menggambarkan kualitas pendidikan?

Bagaimana pula dengan siswa yang diciptakan Tuhan dengan berbagai variasi talenta, mental, dan kemampuan? Padahal tidak ada seleksi khusus di awal bagi para siswa di sekolah di derah, hasil akhir harus seragam, sungguh menentang kaidah system yang berlaku secara umum, input–>process–>output. Lebih lanjut di http://asepsuhendar.wordpress.com/2008/11/15/akreditasi-kkm-dan-balanced-scorecard-dalam-pembelajaran-di-sekolah/.
Terima kasih


Belajar dari Pengalaman Mengajar

Desember 1, 2008

Beberapa waktu yang lalu saya mengajar materi statistika di kelas IX SMP tempat saya mengajar. Agar siswa memahami data, datum, populasi, sampel, dan cara menampilkan data dalam bentuk tabel dan diagram saya meminta siswa untuk mencari data sendiri di lingkungan sekolah (lapang, kebun sekolah, kelas lain, sesama teman, dsb). Saya hanya meminta siswa untuk mengumpulkan data yang terdiri dari 20 datum (datum = pcs/item data), kemudian mengumpulkan data tersebut dengan menuliskan sampel, populasi, dan menampilkan dalam tabel turus (tally table).
Kenyataannya saya mengidentifikasi beberapa masalah:
1. Siswa sangat lambat dalam menentukan apa yang harus mereka teliti (diambil datanya)
2. Ada kecenderungan keseragaman dalam objek yang mereka teliti, sekitar masalah: tinggi badan, ukuran baju, ukuran sepatu, berat badan teman mereka, padahal lapangan/lingkungan yang diteliti luas dan sangat mungkin untuk bervariasi. Sebelumnya juga saya meminta mereka untuk bervariasi dan inovatif dalam menentukan objek yang diteliti, namun hasilnya hanya beberapa siswa/kelompok siswa yang objek yang ditelitinya inovatif.
Dari pengalaman itu saya menyimpulkan:
1. Ada kecenderungan hal yang kurang baik yang dapat diidetifikasi pada siswa: Siswa kurang mampu cepat membuat keputusan dan mengeksekusi perintah.
2. Ada kecenderungan seragam, kurang kreatif, kurang inovatif dsb.
Dugaan saya hal ini terjadi karena:
1. Kesalahan saya dalam memberikan pembelajaran selama ini, kurangnya mengaplikasikan metode pembelajaran yang baik dsb.
2. Kendala karena tuntutan system pendidikan kita.
Yang dimaksud dengan tututan system pendidikan disini adalah:
Terlalu mengutamakan ranah kognitif, yang lainnya afektif dan psikomotorik kurang mendapat penekanan, sehingga siswa mampu mengerjakan soal dalam text book dengan baik tapi kurang dalam membuat keputusan dan mengeksekusi perintah dengan cepat, kreatif, inovatif, dan keberanian mengaplikasikan pengetahuannya, lebih jauh jika bicara tentang kemampuan entrepreneurship  dimasa yang akan datang. Fakta untuk ini adalah apapun metode yang digunakan dalam belajar saya terbentur lagi dengan tuntutan kelulusan berdasarkan Ujian Nasional, mau tidak mau saya tidak dapat mengarahkan siswa untuk belajar di lapangan seperti tadi karena terbentur waktu, dimana siswa harus berlatih soal sebanyak-banyaknya untuk lulus UN. Tentu saja siswa mampu menyelesaikan soal UN adalah baik, namun hal itu tidak cukup untuk mengevaluasi suatu proses pendidikan karena baru menyentuh ranah kognitif. Karenanya menurut saya yang paling berhak menentukan kelulusan adalah guru yang mengajar, yang tahu persis perkembangan siswanya dalam segala aspek (kognitif, afektif, psikomorik). Wallahu ‘alam.
….
Mudah-mudahan ada rekan yang mau berbagi pengalaman tentang cara mengajar yang baik. Hal itu akan jadi masukan yang bermanfa’at bagi saya.
Walaupun kejadian ini hanya terjadi di sekolah dan kelas saya, mungkin karena kualitas KBM  yang saya jalankan kurang baik, tapi saya khawatir hal ini terjadi di sekolah lain, mudah-mudahan ada yang melakukan penelitian mengenai ini.
Terima kasih

AsepS
Guru Matematika di SMPN 3 Langkaplancar

Tb. Coba Ibu/Bapak Guru minta anak-anaknya menggambar pemandangan, kalau kebanyakan yang mereka gambarl dua gunung, sawah, jalan, dan sungai, itu masalah bukan?

Dari e-mail Bapak Arman Andi Amirulloh:
Menurut penelitian mutakhir di AS, peran logika bagi sukses seseorang hanya 4%. Selebihnya (96%) sukses seseorang ditentukan oleh kemampuan “otak kanan” yang punya andil besar dalam hal kreativitas, imajinasi, inovasi, daya rasa, kreasi, seni, kemampuan mencipta dan merekayasa. (MI, 16/1′06) Kemampuan otak sadar manusia sendiri sebenarnya hanya 12% dari seluruh kemampuan otak manusia dan selebihnya (88%) berada di otak bawah sadar, tepatnya di otak kanan. (Quantum Ikhlas, 2007).


Total Quality Management (TQM) dalam Pendidikan dan UN

November 24, 2008

Baru-baru ini saya membaca buku Total Quality Management in Education (Edward Sallis, 2002), saya tertarik dengan tulisannya pada bagian penjelasan Education Product (Produk Pendidikan), kira-kira inilah isinya:

Pertanyaan mendasar yang harus dikemukakan diawal ketika kita mencoba untuk memahami tentang mutu adalah pertama ‘Apa produknya?’ dan yang kedua ‘Siapa customer-nya?’. Pertanyaan ini hendaknya juga dipikirkan diawal ketika kita berbicara tentang mutu dalam pendidikan.

Terdapat perbedaan pandangan tentang produk dari pendidikan. Siswa sering kali dipandang sebagai produk/output dari pendidikan, terutama jika kita bicara tentang kinerja institusi pendidikan. Pernyataan bahwa pendidikan ‘menyediakan lulusan’ telah membuat pendidikan seperti suatu proses produksi dengan siswa muncul sebagai hasil akhir dari proses tersebut. Jika selanjutnya kita bicara mutu dari pendidikan dengan memandang pendidikan sebagai sebuah proses produksi, hal pertama agar ada jaminan mutu (quality assurance) adalah perlunya menentukan spesifikasi dan juga mengontrol sumberdaya/input untuk proses produksi tersebut.

Kedua, ‘bahan mentah’ yang masuk kedalam institusi pendidikan agar proses pendidikan memiliki jaminan mutu harus melalui sebuah proses standar dan output harus memenuhi spesifikasi yang didefinisikan sebelumnya. Model seperti itu tidak mudah dicapai dalam dunia pendidikan. Model seperti itu jelas mensyaratkan sebuah proses seleksi awal para siswa yang akan diterima. Beberapa institusi pendidikan dapat melakukan hal ini, namun untuk sebagian besar sekolah tidak mungkin melakukan hal ini (Ia berbicara tentang sekolah di Inggris, apalagi di Indonesia). Dari hal ini kita tahu bahwa meskipun telah dibuat kurikulum dan standar proses pendidikan oleh pemerintah (di Indonesia ada standar Isi, SKL, standar proses, dsb), namun hasil akhirnya tetap sesuatu yang tidak dapat dibuat seragam. Adalah sesuatu yang mustahil untuk memproduksi siswa dengan jaminan standar tertentu yang seragam.  Lynton Gray menulis hal inisebagai berikut:

Human beings are notoriously non-standard, and they bring into educational situations a range of experiences, emotions and opinions which cannot be kept in the background of the operation. Judging quality is very different from inspecting the output of a factory, or judging the service provided by a retail outlet.

Ide bahwa siswa sebagai produk pendidikan mengabaikan kompleksitas dari proses pembelajaran dan keunikan dari tiap-tiap individu pembelajar. Sehingga apa sebenarnya produk pendidikan? Sebelum menjawab pertanyaan ini maka akan lebih baik jika memandang pendidikan sebagai sebuah jasa daripada sebuah proses produksi. Perbedaan andata produk dan jasa sangat penting karena terdapat perbedaan mendasar antara keduanya yang berhubungan erat dengan bagaimana mengukur kualitasnya.

Bagaimana dengan standar kelulusan menggunakan nilai UN? Ada ide tau pendapat?

AsepS

 

Koment di milis Pendidikan Network:

Hermawan Budi Santoso said:

menurut saya, pendidikan adalah sebuah proses. proses untuk menjadikan seseorang (bahkan hewan) untuk menuju sebuah kondisi yang diinginkan oleh si pendidik.

dalam kehidupan, kita mengalami pendidikan untuk menjadi lebih baik. untuk bertahan hidup, bersosialisasi, melanjutkan generasi, mencipta banyak hal demi kemudahan dan kenyamanan kita. singkatnya, untuk meningkatkan taraf hidup kita.

di sekolah, kita mengalami pendidikan untuk mengetahui berbagai hal. rumus yang unik walau kadang rumit, tata bahasa yang baik dan benar, kisah kehidupan manusia, keajaiban alam dan penciptaannya, bahkan budi pekerti.

dan bagi saya…semua itu terserah si pendidik, mau dijadikannya seperti apa anak didiknya. ia bisa menjadikan mereka ensiklopedi berjalan yang tahu banyak hal. bisa juga menjadi ilmuwan kreatif, mencipta banyak hal. ia pun bisa menjadikan mereka seperti seonggok daging yang hanya punya nama dan bisa berjalan tetapi tidak memiliki impian dan kemampuan untuk mengembangkan diri. tetapi ia juga bisa membentuk orang2 yang menyadari bahwa ternyata mereka memiliki sesuatu yang luar biasa dalam diri mereka, membantu mereka untuk menggali dan mengembangkannya, dan akhirnya menjadilah mereka orang2 yang luar biasa.

pendidikan itu tidak terbatas. pendidikan terbaik adalah yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi lebih baik, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi. menembus batas dan bahkan tak terbatas. karena itu jangan pernah membatasi seseorang dalam pendidikannya.

batas minimal UN? entahlah…..ia mungkin sebuah ironi.

bagus karena dengan hal itu berarti menuntut adanya peningkatan kualitas pendidikan. kemudian menjadi buruk bila dalam usaha peningkatan tersebut terdapat usaha2 kotor. sulit menjawab ironi ini.

yang saya tahu…let’s start the evolution from inside ourself. mari belajar, dan mari perbaiki diri menjadi lebih baik. karena semua hal pasti berubah dan harus berubah, tak ada yang abadi. salah satu hal yang abadi dalam hidup adalah perubahan itu sendiri.

 

~hermawan~

 

Risfan said:

Rekan-rekan ysh,

Sdr Asep menyampaikan kesannya atas buku. Sayang kita tidak ikut baca. Tapi judul TQM in Education tampaknya menjanjikan.

Karena tidak ikut baca, tapi disodori opini, maka komentar saya terbatas pada tulisan sdr Asep.

TQM sendiri sebagai alat manajemen saya kira netral dan bermanfaat, terutama untuk perbaikan kualitas proses operasional. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses dan hasil.

Mengenai kata “produk”. Dalam manajemen “produk” itu selalu diartikan sebagai “barang atau jasa” Jadi pendapat sdr Asep yang mengontraskan “produk” vs “jasa” saya pikir kurang tepat. Karena “jasa” itu juga pruduk.

Kedua, menurut pendapat saya. Produk pendidikan ialah jasa. Yaitu “ilmu” (knowledge, skill, attitude/KSA). Dan output adalah KSA yang dikuasai lulusan. Jadi kalau mau mengukur efektivitas manajemen satu sekolah, ya membandingkan KSA yang dikuasai siswa saat lulus dibanding saat mendaftar.

Soal standar mutu pendidikan (KSA), itu mungkin perdebatan yang lain. Pakai standar atau tidak perbandingan penguasaan KSA sesudah vs sebelum sekolah tetap relevan. Ujian tetap perlu, pakai UAN atau tidak.

Salam,
Risfan Munir

Khatib A. Latief said:

Brother Asep,

Saya pikir idea ini cukup menarik dan pada banyak hal saya sependapat.

Walaupun bagi saya pendidikan itu proses sehingga anak didik bukan hanya dianggap sebagai product yang dapat ditentukan menerut pabriknya tetapi juga reosurces! Ini artinya UAN dalam tataran tertentu memili kelemahan, yaitu adanya pengabaian kondisi psikologis anak Will continue later…

 

 


AKREDITASI, KKM, DAN BALANCED SCORECARD DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

November 15, 2008

Alhamdulillah sekolah tempat saya mengajar (SMPN 3 Langkaplancar, Ciamis) telah diakreditasi pada hari Jum’at dan Sabtu tanggal 7-8 November 2008. Dari akreditasi tersebut saya mendapat manfa’at yang banyak dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan di sekolah, khususnya dalam hal pengelolaan Kurikulum dan Pembelajaran yang berkenaan dengan tanggung jawab saya sebagai PKS Kurikulum, lebih khusus lagi dalam hal pengelolaan pembelajaran dalam kelas yang berkenaan dengan tugas utama saya sebagai guru.
Saya juga telah mendapatkan ilmu yang tak ternilai harganya, bimbingan, pencerahan, serta penyegaran dari para asesor yang telah dengan penuh kesabaran dan ketelian membimbing dan memberikan arahan demi perbaikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah tempat saya mengajar, juga memberikan bimbingan dan dan arahan dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas secara pribadi sebagai sebuah amanah dari Alloh SWT untuk sungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam melaksanakan kewajiban sebagai guru di SMPN 3 Langkaplancar. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya secara pribadi (juga mewakili rekan saya di sekolah) menyampaikan terima kasih kepada para asesor, Yth:
1. Drs. H. Nasir Zaenal H. M.Pd dari Dinas Pendidikan Kab. Tasikmalaya
2. Drs. Cici Nurul Haq, M.Pd. dari Dinas Pendidikan Kab. Garut.

Selanjutnya saya juga akan mengungkapkan sekelumit hasil akreditasi sebagai sampel untuk menjelaskan betapa bermanfa’atnya akreditasi.

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) dan Balanced Score Card
Satu hal yang dulu menjadi pertanyaan dalam hati bagi saya adalah penentuan skala dalam membuat KKM. Sebagai seorang guru pembuatan KKM tentu saja merupakan pekerjaan rutin yang dikerjakan setiap awal tahun pelajaran, namun satu hal yang mudah tapi susah adalah penentuan skala dalam KKM. Mudahnya tentu saja kita dapat menentukan skala untuk tiap indicator hanya dengan menulis angka saja, sulitnya Apa yang menjadi acuan dalam penentuan angka tersebut?. Saya sadar akan hal ini ketika ditanya asesor Yth. Bapak Drs. H. Nasir Zaenal H. M.Pd. : ”How did you determine this value? Were you guessing it?”. (Beliau bicara in english waktu itu, memberi semangat untuk belajar Bhs Inggris juga). Tentu saja tidak bisa mengelak karena memang saya membuatnya dengan guessing saja (menerka). Tentu saja menurut beliau ini menjadi sesuatu yang unmeasurable padahal seharusnya nilai itu didapat dari skala yang jelas.

Contoh untuk matematika (saya mengajar matematika) waktu itu beliau mencontohkan hal dibawah ini:
Standar Kompetensi : Statistika dan peluang
Kompetensi Dasar : Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya
Indikator : Mengurutkan data tunggal, mengenal data terkecil, terbesar dan jangkauan data.
Untuk indicator tersebut dengan menggunakan skala 0-100, akan menentukan nilai kompleksitas, daya dukung, dan intake siswa. Dalam dokumen KKM saya menulis nilai Daya Dukung untuk indikator ini adalah 80.
Singkat cerita beliau mengharuskan menuliskan daya dukung standar/ideal untuk indicator ini kemudian lihat berapa yang sudah dipenuhi dan yang belum kemudian tentukan nilainya dan usulkan kekurangannya untuk menjadi masukan pada RAPBS tahun berikutnya, sehingga tahunberikutnya KKM bisa meningkat.

Hikmah Akreditasi dan Scorecard
Memang dalam manajemen akan lebih terasa mudah dan indah kalau objek yang kita manage adalah measurable. Demikian juga sebagai guru, guru adalah manajer pembelajaran di kelas, tentu saja akan terasa mudah jika dari awal rencana dan indicator keberhasilan dibuat segalanya measurable bukan guessing.
Hikmah dari akreditasi saya jadi ingat kembali pembelajaran tentang balanced scorecard yang diberikan Yth. Bapak Prof. Dr. Augusty Ferdinand, MBA (FE Undip Semarang, Direktur AIG Consulting Jakarta). Saya yakin hasilnya akan lebih baik kalau pendidikan di sekolah dari awal sudah ditentukan targetnya dalam bentuk scorecard, untuk guru tentu saja berawal dari KKM. Untuk itu saya mulai saja coba-coba buat scorecard untuk penentuan KKM. Namun masalahnya kalau benar-benar jujur apakah yakin KKM akan memenuhi tuntutan pemerintah sebesar 75%, jangan-jangan ada di bawah standar UN (5,25 atau 52,5%), mengingat di sekolah saya buku pegangan untuk siswa saja untuk tiga mata pelajaran (B. Indonesia, B. Inggris, dan Matematika) paling 1 buku untuk 5 siswa, sementara bantuan buku sudah tidak ada lagi dari pemerintah, yang ada bse (buku sekolah elektronik) tapi dihitung-hitung kalau dicetak sendiri jatuhnya mahal dan jelas diluar kemampuan sekolah. Semoga tulisan ini menjadi masukan bagi Depdiknas.

Terima kasih
AsepS
Guru Matematika SMPN 3 Langkaplancar

 

NB. Alhamdulillah Senin tanggal 17 November 2008 saya mendapat informasi sekolah kami akan segera menerima bantuan buku, semoga Pendidikan semakin maju..


Analisis Ulangan Harian, Ketuntasan, dan Soal

November 14, 2008

Format analisis ulangan harian (Ms Excel 2007, dilengkapi rumus), analisis ketuntasan belajar dan analisis soal dapat di download disini:

Analisis

 Download editor jadwal pelajaran di http://asepsuhendar.wordpress.com/2007/12/16/editor-jadwal-pelajaran/.

Semoga berguna.
AsepS


Materi Pembelajaran Matematika

September 7, 2008

Berikut adalah materi pembelajaran matematika yang saya tulis (dapat diakses juga melalui http://rombel.net):

1. Operasi Pangkat

2.  Persamaan Garis Lurus

Materi tersebut akan tampil dengan baik jika pada kompeuter anda terpasang:

Java web browser plugin diperlukan untuk menjalankan java applet.

MathPlayer diperlukan agar simbol, persamaan, dan kalimat matematika tampil dengan baik.

 

AsepS