Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan tentang Ujian Nasional

Yth. Bapak Menteri Pendidikan RI

di

Jakarta

 

Disampaikan dengan hormat bahwa saya yang benama Asep Suhendar, Guru SMPN 3 Langkaplancar, hendak menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional. Sebelumnya saya juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri atas kerja keras Bapak untuk meningkatkan Pendidikan Nasional.

Ada beberapal yang ingin saya sampaikan berkenaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional, yaitu:

1.       Saya dibertugas di daerah yang dapat dikatakan terpencil, jumlah guru sangat kurang dibandingkan dengan jumlah siswa, bahkan ada Mata Pelajaran yang di UN kan yang tidak ada gurunya, dan mungkin hal ini juga terjadi di sekolah yang lain.

2.       Menurut penilaian saya sebagian masyarakat di daerah masih memiliki kesadaran yang rendah akan pentingnya pendidikan, sehingga yang kami pikirkan bukan hanya bagaimana supaya siswa lulus UN, tapi juga bagaimana menghadirkan siswa di sekolah.

3.       Ada teman saya yang sebelumnya bertugas puluhan tahun di daerah yang lebih tepencil (di Pulau tertentu), di tengah hutan, di tengah ego etnis masyarakat local, sehingga yang teman saya pikirkan selain pendidikan juga keselamatan diri. Oleh karena itu jangan ditambah rasa takut mereka dengan senapan milik Densus 88, dan hal lainnya.

4.       Guru di tempat saya tidak seperti yang digambarkan Bapak di sebuah iklan di televisi (iklan peringatan pembocoran soal UN), berpakaian sangat rapi didepan komputer yang canggih. Guru di tempat saya banyak yang bekerja lain dengan bertani atau beternak sapi, karena gaji yang didapatkan hanya sekitar 200 – 300 rb rupiah per bulan. Saya juga menangis melihat iklan itu, karena guru digambarkan dengan sikap yang tidak baik, dan iklan itu ditonton anak-anak (siswa) kami, mohon Bapak mempertimbangkan penayangan iklan tadi. Kami tidak merasa sikap kami sudah Baik, namun mohon sikap yang buruk itu tidak ditayangkan dihadapan anak-anak kami.

 

Dari uraian diatas mohon kiranya Bapak Menteri untuk memberdayakan para ahli untuk mengkaji standar kelulusan dari UN secara ilmiah dan menyampaikan hasil kajian tersebut kepada kami dengan sikap yang ilmiah, supaya tidak terlihat seperti kebijakan yang dipaksakan, juga mohon iklan tadi segera dicabut atau diperbaharui supaya tidak menyebabkan over generalization atau premature closure yang negatif dari anak-anak kami.

Kepada Bapak Menteri saya mohon ma’af surat ini disampaikan secara terbuka melalui Internet karena saya berfikir hanya inilah cara yang dapat saya lakukan.

Demikian surat ini saya sampaikan, mohon ma’af jika ada kesalahan, saya insan tempat bermuaranya kesalahan dan Maha Suci Alloh SWT dari segala kesalahan, semoga Alloh SWT memberikan kemudahan kepada bangsa ini untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Terima kasih atas perhatian Bapak, semoga surat ini bermanfa’at.

 

Hormat saya,

 

 

Asep Suhendar

Guru SMPN 3 Langkaplancar

Web:

http://www.asepsuhendar.info

https://asepsuhendar.wordpress.com

http://asepsuhendar.orgfree.com

Email: asepsuhendar07@gmail.com

Tel. 08122116557

 

Terimakasih kepada telkomsel flash sebagai satu-satunya sarana yang memberikan fasilitas kepada saya untuk dapat mengakses Internet dari tempat saya mengajar.

 

 

 

6 Balasan ke Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan tentang Ujian Nasional

  1. oRiDo mengatakan:

    semoga surat ini dapat dibaca oleh bapak Mentri pendidikan…
    semoga harapan kang Asep ini dapat tercapai..

    tetap semangat kang Asep..

  2. zidni rachmawati mengatakan:

    saya juga sangat prihatin dengan kecurangan-kecurangan yang terjadi selama pelaksanaan UAN. sebenarnya guru-guru mendapat tekanan bantin yang amat hebat ketika kejujurannya harus dikorbankan dengan predikat siswa lulus 100%. sebaiknya UAN tidak dijadikan alat untuk menentukan kelulusan siswa. ada cara yang lebih baik. terlebih lagi rencana yang akan datang UAN juga dijadikan tiket masuk ke PT. saya tidak bisa bayangkan bagaimana kecurangan itu akan semakin menjadi2. silahkan buka web http://www.man3kediri.sch.id

  3. asepsuhendar mengatakan:

    Terimakasih untuk semua komentator disini…

  4. ihsan mengatakan:

    memang UN nanmpaknya nampaknya bukan hanya untuk mengukur keberhasilan pendidikan Indonesia tetapi bagaimana cara mengalihkan perhatian publik dari kesulitan-kesulitan hidup, dan lebih penting mengamankan proyek milyaran rupiah tanpa memperdulikan keterbatasan sarana dan ptrasarana serta psykologis anak.
    Bahkan secara langsung pemerintah lebih memperhatikan bimbel dibanding sekolah formal, Coba amati soal-soal fisika UN SMA yang lalu, mirip soal-soal untuk PT yang yang biasa dijadikan materi bimbel, jangan-jangan pembuatnya juga bimbel, sebab soal-soal yang disajikan sulitnyan bukan main.
    1. materi soal yang di sajikan tidak relepan dengan SKL yang diterbitkan pemerintah
    2. penyelesainnya memerlukan 3 sd 5 langkah (soal Rangkaian RLC arus AC) karena konsep yang diberikan terlalu rumit, bahkan ada soal secara konsep benar tetapi tidak real dengan kenyataan (tengok soal fusi termal yang membutuhkan energi (kode 12 dan 45)
    3. memgunakan angka -angka matematik yang tidak sederhana, dengan kalkulatorpun sudah sulit, apalagi tanpa kalkulatoralhasil 1 soal paling cepat dapat dikerjakan minimal 5 menit, itupun kalau konsepnya benar.
    jadi jika ditanya apa yang diharapkan pemerintah, mengukur nilai prestasi…(dengan soal yang tidak pantas untuk tingkat Siswa SMA) atau sekedar mengamankan proyek.

  5. asepganda mengatakan:

    EYD-nya harus dibenarkan lagi. Bagaimana mengemban tugas di Langkaplancar?? mengasyikan??

  6. ema yunika mengatakan:

    saya siswa kelas xii salah satu sma di bandarlampung. tidak dapat dipungkiri bahwa kecurangan pada ujian nasional juga terjadi sekolah saya, bahkan sudah menjadi suatu jaringan yang kompleks, tidak hanya murid-murid saja yang bekerjasama untuk saling memberikan jawaban… bahkan guru-guru pun turut mendukung ketidakjujuran ini…. sedihnya… padahal sekolah kami adalah sekolah yang diunggulkan di kota kami.. di sekolah kami saja sudah begitu parah, apalagi di sekolah lain?

    yang tetap konsisiten untuk tidak mencontek hanya beberapa.. bahkan bisa dihitung dengan jari. apakah UN harus tetap eksis?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: