Belajar dari Pengalaman Mengajar

Beberapa waktu yang lalu saya mengajar materi statistika di kelas IX SMP tempat saya mengajar. Agar siswa memahami data, datum, populasi, sampel, dan cara menampilkan data dalam bentuk tabel dan diagram saya meminta siswa untuk mencari data sendiri di lingkungan sekolah (lapang, kebun sekolah, kelas lain, sesama teman, dsb). Saya hanya meminta siswa untuk mengumpulkan data yang terdiri dari 20 datum (datum = pcs/item data), kemudian mengumpulkan data tersebut dengan menuliskan sampel, populasi, dan menampilkan dalam tabel turus (tally table).
Kenyataannya saya mengidentifikasi beberapa masalah:
1. Siswa sangat lambat dalam menentukan apa yang harus mereka teliti (diambil datanya)
2. Ada kecenderungan keseragaman dalam objek yang mereka teliti, sekitar masalah: tinggi badan, ukuran baju, ukuran sepatu, berat badan teman mereka, padahal lapangan/lingkungan yang diteliti luas dan sangat mungkin untuk bervariasi. Sebelumnya juga saya meminta mereka untuk bervariasi dan inovatif dalam menentukan objek yang diteliti, namun hasilnya hanya beberapa siswa/kelompok siswa yang objek yang ditelitinya inovatif.
Dari pengalaman itu saya menyimpulkan:
1. Ada kecenderungan hal yang kurang baik yang dapat diidetifikasi pada siswa: Siswa kurang mampu cepat membuat keputusan dan mengeksekusi perintah.
2. Ada kecenderungan seragam, kurang kreatif, kurang inovatif dsb.
Dugaan saya hal ini terjadi karena:
1. Kesalahan saya dalam memberikan pembelajaran selama ini, kurangnya mengaplikasikan metode pembelajaran yang baik dsb.
2. Kendala karena tuntutan system pendidikan kita.
Yang dimaksud dengan tututan system pendidikan disini adalah:
Terlalu mengutamakan ranah kognitif, yang lainnya afektif dan psikomotorik kurang mendapat penekanan, sehingga siswa mampu mengerjakan soal dalam text book dengan baik tapi kurang dalam membuat keputusan dan mengeksekusi perintah dengan cepat, kreatif, inovatif, dan keberanian mengaplikasikan pengetahuannya, lebih jauh jika bicara tentang kemampuan entrepreneurship  dimasa yang akan datang. Fakta untuk ini adalah apapun metode yang digunakan dalam belajar saya terbentur lagi dengan tuntutan kelulusan berdasarkan Ujian Nasional, mau tidak mau saya tidak dapat mengarahkan siswa untuk belajar di lapangan seperti tadi karena terbentur waktu, dimana siswa harus berlatih soal sebanyak-banyaknya untuk lulus UN. Tentu saja siswa mampu menyelesaikan soal UN adalah baik, namun hal itu tidak cukup untuk mengevaluasi suatu proses pendidikan karena baru menyentuh ranah kognitif. Karenanya menurut saya yang paling berhak menentukan kelulusan adalah guru yang mengajar, yang tahu persis perkembangan siswanya dalam segala aspek (kognitif, afektif, psikomorik). Wallahu ‘alam.
….
Mudah-mudahan ada rekan yang mau berbagi pengalaman tentang cara mengajar yang baik. Hal itu akan jadi masukan yang bermanfa’at bagi saya.
Walaupun kejadian ini hanya terjadi di sekolah dan kelas saya, mungkin karena kualitas KBM  yang saya jalankan kurang baik, tapi saya khawatir hal ini terjadi di sekolah lain, mudah-mudahan ada yang melakukan penelitian mengenai ini.
Terima kasih

AsepS
Guru Matematika di SMPN 3 Langkaplancar

Tb. Coba Ibu/Bapak Guru minta anak-anaknya menggambar pemandangan, kalau kebanyakan yang mereka gambarl dua gunung, sawah, jalan, dan sungai, itu masalah bukan?

Dari e-mail Bapak Arman Andi Amirulloh:
Menurut penelitian mutakhir di AS, peran logika bagi sukses seseorang hanya 4%. Selebihnya (96%) sukses seseorang ditentukan oleh kemampuan “otak kanan” yang punya andil besar dalam hal kreativitas, imajinasi, inovasi, daya rasa, kreasi, seni, kemampuan mencipta dan merekayasa. (MI, 16/1’06) Kemampuan otak sadar manusia sendiri sebenarnya hanya 12% dari seluruh kemampuan otak manusia dan selebihnya (88%) berada di otak bawah sadar, tepatnya di otak kanan. (Quantum Ikhlas, 2007).

3 Balasan ke Belajar dari Pengalaman Mengajar

  1. Muhamad Yusuf mengatakan:

    Betul yang dialami Kang Asep, salah satu yang menyebabkan kesulitan melakukan eksplorasi adalah tuntutan kurikulum dengan bahan yang begitu banyak, waktu terbatas dan tuntutan UN yang mengharuskan siswa jadi penghafal rumus (betul ga?), mudah-mudahan tetap semangat ya Kang.. BTW, saya mo minta bantuan (boleh ya ), saya cari teman bernama Bubun Ruhbana, guru bologi, dulu bertugas di Kadupandak,Cianjur, lalu pindah ke SMP 1 atau 2 Panjalu, Ciamis, setelah itu saya kehilangan info tentang beliau…terimakasih Kang.

    • asepsuhendar mengatakan:

      Oh iya insya Allah nanti saya telusuri infonya Pak, kebetulan kalau dari tempat saya ke Panjalu berjarak sekitar 130 km, karena saya di ujung selatan Ciamis, kalau panjalu Ciamis Utara, tapi saya punya beberapa teman guru yang berasal dari daerah sekitar Panjalu, semoga mereka tahu info Pak Bubun.

  2. dadang suherman mengatakan:

    Slm…sma syapun mencari guru biologi….dlu brtugas d smp n kdpk….yg brnma bubun ruhbana…!sya murid beliau dhulu..dang shrman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: