Paradigma Pendataan Pendidikan

Oktober 15, 2014

MARI BERIMAJINASI TENTANG PENDIDIKAN DI KABUPATEN PANGANDARAN

September 12, 2014

091214_0831_MARIBERIMAJ1.jpg

Gambar diambil dari http://kosmix.co tanggal 12/9/2014 untuk melengkapi tulisan yang ditulis tanggal 29/8/2014

Saat ini, Hari Jum’at tanggal 29 Agustus 2014, tepat 408 Hari Disdibudpora Kabupaten Pangandaran melaksanakan layanan bidang Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga, sejak tanggal 17 Juli 2013. Tugas pokok kami di sub bagian Program Disdikbudpora dalam Perbup Nomor 9 Tahun 2013, adalah pembentukan pendataan, perencanaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan setiap kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga, yang merupakan tugas-tugas yang bagi kami sendiri merupakan beban yang sangat berat. Bukan saja karena tuntutan kemampuan teknis yang harus menjadi modal teknis yang harus dimiliki, jadi modal pelaksanaan tugas, tapi yang lebih berat lagi adalah tanggung jawab moral, ada kekhawatiran kami bahwa tindakan kami saat ini, dimana Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga masih sangat muda, tentu sedikit banyak akan mewarnai Pendidikan di Kabupaten Pangandaran dimasa yang akan datang apa jadinya jika warna itu warna yang salah.

Pendataan, yang merupkan tindakan identifikasi dan bahkan bisa juga merupakan tindakan diagnosa, akan menjadi penentu utama bagi tindakan-tindkan selanjutnya.

Ketika kita melakukan pendataan dalam kerangka identifikasi, kita tidak mungkin memandang Pendidikan di Pangandaran seperti memandang lahan yang masih kosong yang diatasnya belum ada bangunan, tapi harus memandang pendidikan di Pangandaran sebagai sebuah bangunan yang diwariskan Kabupaten Ciamis.

Orang lain boleh berkata bangunan pendidikan ini baik atau buruk tergantung dari sisi mana ia memendang, yang jelas dari sudut pandang manapun ia menilai, harus kita sadari bahwa kekurangan pada bangunan pendidikan ini adalah suatu hal yang pasti ada dan wajar, bahkan inilah tantangan kita.

Untuk dapat mengidentifikasi dengan baik, tentu kita harus dapat menyusun instrumen untuk mengukurnya, tapi apa yang harus kita identifikasi? Secara formal OK, ketika saya diminta untuk identifkasi oleh Kemendikbud, kita tinggal mengukur Pendidikan di Pangandaran dengan melihat indikator pencapaian kinerja yang disediakan oleh Kemendikbud, untuk Tahun 2013, ini hasilna :

1.      Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis T1

KODE SASARAN STRATEGIS Kondisi Saat Ini Kesenjangan
S1.1 APK PAUD Kemdikbud mencapai 72,00% 13,8% 58,2%
S1.2 PTK PAUD yang mengikuti peningkatan kompetensi mencapai 44,63%

Belum terukur100%S1.3Sebanyak 15,00% PTK PAUD memperoleh penghargaan dan perlindunganBelum terukur100%S1.4Jumlah model dan program PAUD yang dikembangkan di tingkat kecamatan sebanyak …0%100%S1.5Sebanyak 20,00% lembaga dan program PAUD mendapatkan pemetaan mutu0%100%

2.      Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis T2

Kode Sasaran Strategis Kondisi Saat Ini Kesenjangan
S2.1 APM SD/SDLB/Paket A mencapai 83,57% 89,1%
S2.2 Rasio kesetaraan jender SD/SDLB mencapai 98,00% Belum terukur 100%
S2.3 Peserta didik SD/SDLB putus sekolah sebanyak 0,70% Belum terukur 100%
S2.4 Lulusan SD/SDLB yang melanjutkan pendidikan sebanyak 97% Belum terukur 100%
S2.5 SD yang menerapkan e-pembelajaran mencapai 40% 0% 100%
S2.6 SD yang memiliki fasilitas internet mencapai 30% 0% 100%
S2.7 SD/SDLB yang menerapkan kurikulum 2013 mencapai 43,33% 5% 95%
S2.8 SD/SDLB yang berakreditasi mencapai 85% 100% 0
S2.9 SD/SDLB yang memenuhi SPM mencapai 64% Belum terukur 100%
S2.10 Nilai total tertimbang medali dari kompetisi internasional tingkat pendidikan dasar sebanyak … Belum terukur 100%
S2.11 APK SMP/SMPLB/Paket B mencapai 79,53% 91,5% 0%
S2.12 APM SMP/SMPLB/Paket B mencapai 58,17% 70,1% 0%
S2.13 Rasio kesetaraan jender SMP/SMPLB mencapai 98% Belum terukur 100%
S2.14 Peserta didik SMP/SMPLB yang putus sekolah mencapai 1,00% Belum terukur 100%
S2.15 Lulusan SMP/SMPLB yang melanjutkan ke sekolah menengah mencapai 94% Belum terukur 100%
S2.16 SMP yang menerapkan e-pembelajaran mencapai 60% Belum terukur 100%
S2.17 SMP yang memiliki fasilitas internet mencapai 60% Belum terukur 100%
S2.18 SMP/SMPLB yang menerapkan kurikulum 2013 mencapai 66,66% 1% 99%
S2.19 SMP/SMPLB yang berakreditasi mencapai 70,90% 100% 0%
S2.20 SMP/SMPLB yang memenuhi SPM mencapai 75% Belum terukur 100%
S2.21 Guru SD/SDLB dalam jabatan yang berkualifikasi akademik S1/D4 mencapai 82% Belum terukur 100%
S2.22 SD yang memiliki rasio guru terhadap siswa sesuai SPM mencapai 13% Belum terukur 100%
S2.23 Rasio guru terhadap siswa SD mencapai 1:28 1:18 0%
S2.24 Guru SMP/SMLB dalam jabatan yang berkualifikasi akademik S1/D4 mencapai 98% Belum terukur 100%
S2.25 SMP yang memiliki rasio guru terhadap siswa sesuai SPM mencapai 13% Belum terukur 100%
S2.26 Rasio guru terhadap siswa SMP mencapai 1:32 27:1 0%
S2.27 Pendidik dan tenaga kependidikan yang menerima tunjangan mencapai 100% 90% 10%
S2.28 Kab/Kota yang memiliki tenaga kependidikan sesuai SPM mencapai 82% Belum terukur 100%

3.      Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis T3

KODE SASARAN STRATEGIS Kondisi Saat Ini Kesenjangan
S3.1 APK Nasional Kemdikbud SMA, SMK, SMLB dan Paket C mencapai 77,10% 48,80% 28,3%
S3.2 Meningkatkan persentase SMA, SMK, SMLB dan Paket C yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) mencapai 58,00% pada tahun 2014 Belum terukur 100%
S3.3 Meningkatkan persentase PTK SMA, SMK, PKLK dan Paket C yang memenuhi SNP mencapai 75% pada tahun 2014 Belum terukur 100%
S3.4 Meningkatnya satker mendapat dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis program pendidikan menengah mencapai 98% Belum terukur 100%

4.      Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis T4

Tidak menjadi sasaran Disdikbudpora.

5.      Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis T5

KODE SASARAN STRATEGIS Kondisi Saat Ini Kesenjangan
S5.1 Sebanyak 19,00% anak lulus SMP tidak melanjutkan, putus dan/atau lulus sekolah menengah tidak melanjutkan mendapatkan layanan pendidikan keterampilan Belum terukur 100%
S5.2 Sebanyak 100% peserta didik kursus dan pelatihan memperoleh sertifikat kompetensi Belum terukur 100%
S5.3 Sebanyak 20,00% lembaga kursus dan pelatihan berakreditasi A dan B 0% 100%
S5.4 Penduduk buta aksara usia dewasa mencapai 3,83% Belum terukur 100%
S5.5 Kabupaten telah menerapkan pengarusutamaan gender bidang pendidikan 100% 100%
S5.6 Kabupaten telah menyelenggarakan parenting education 0% 100%
S5.7 PKBM bernomor induk lembaga mencapai 80,00% Belum terukur 100%
S5.8 Kabupaten telah memiliki minimal 10 TBM 100% 100%
S5.9 PTK nonformal dan informal yang mengikuti peningkatan kompetensi mencapai 44,63% Belum terukur 100%
S5.10 Sebanyak 15,00% PTK nonformal informal memperoleh penghargaan dan perlindungan Belum terukur 100%
S5.11 Jumlah model dan program nonformal dan informal yang dikembangkan di tingkat regional sebanyak … 0% 100%
S5.12 Sebanyak 20,00% lembaga dan program nonformal dan informal mendapatkan pemetaan mutu 0% 100%

6.      Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis T6

KODE SASARAN STRATEGIS Kondisi Saat Ini Kesenjangan
S6.1 Jumlah bahasa daerah di Indonesia teridentifikasi mencapai 634 Belum terukur 100%
S6.2 Jumlah guru bahasa Indonesia memiliki kemahiran berbahasa Indonesia sesuai standar nasional mencapai 17.572 Belum terukur 100%
S6.3 Jumlah TUK (Tempat Uji Kemahiran) bahasa Indonesia mencapai 12 Belum terukur 100%
S6.4 Jumlah provinsi tertib dalam penggunaan bahasa indonesia di ruang publik mencapai 25 Belum terukur 100%
S6.5 Jumlah majalah bahasa dan sastra diterbitkan secara berkala mencapai 6 Belum terukur 100%
S6.6 Jumlah fasilitasi pembelajaran BIPA di luar negeri mencapai 50 Belum terukur 100%
S6.7 Cagar budaya yang dilestarikan sebanyak .. Belum terukur 100%
S6.8 Jumlah pengunjung pada museum yang direvitalisasi mencapai … Belum terukur 100%
S6.9 Sekolah yang difasilitasi sarana budaya sebanyak … Belum terukur 100%
S6.10 Jumlah fasilitasi film yang berkarakter sebanyak .. Belum terukur 100%
S6.11 Jumlah komunitas budaya yang difasilitasi sebanyak … Belum terukur 100%
S6.12 Jumlah orang yang mengapresiasi sejarah dan karya budaya mencapai … Belum terukur 100%
S6.13
S6.14 Jumlah warisan budaya nasional yang ditetapkan mencapai … Belum terukur 100%

7.      Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis T7

KODE SASARAN STRATEGIS Kondisi Saat Ini Kesenjangan
S7.1 Opini Audit BPK RI atas laporan keuangan adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)

 

Belum terukur/ dilaksanakan100%S7.2Skor Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) sekurang-
kurangnya 79

Belum terukur/ dilaksanakan100%S7.3Realisasi penyerapan anggaran 100% setiap tahunnyaBelum terukur/ dilaksanakan100%

Pertanyaannya apakah itu cukup?

Menurut pendapat saya pribadi indikator kinerja Kemdikbud dalam rentra Kemdikbud belum cukup untuk menggunakan proses pendidikan yaitu proses memanusiakan manusia. Jika kita lihat, indikator yang ada haya mengukur angka formal.

Terus ketercapaian afektif berupa sikap, akhlak, karakter, dimana ya? Saya tidak dapat melihat indikator itu muncul. Mungkin rekan yang membaca disini bahkan dapat melihat lebih banyak lagi yang belum terukur.

Untuk itu melalui tulisan ini kami mengajak rekan semua untuk sama-sama mencurahkan ide mengenai bentuk pendidikan di Kabupaten Pangandaran yang diimpikan, yang selanjutnya kita dapat menentukan indikator-indikator apa saja yang harus diukur yang menggambarkan indicator kinerja pembangunan Pendidikan di Pangandaran yang diwariskan Kabupaten Ciamis ini, agar kita dapat menentukan arah perbaikan yang harus kita buat.

Sekali lagi ingat, kita TIDAK MEMBANGUN DARI NOL, tapi kita harus MENINGGIKAN DAN MEMPERCANTIK bangunan yang sudah di wariskan Kabupaten Ciamis.

Kalau ada yang menganggap kita dari NOL, artinya ia berpikiran harus menghancurkan dulu bangunan dan tatanan yang ada, satu harga yang sangat mahal dan tidak perlu, dan perlu dipertanyakan, apakah mampu ia berbuat dalam waktu dekat? Saya yakin 100% tidak akan mampu.

Stop dulu kita diskusikan topik di pendataan, insya alloh lain waktu kita bicara di topik lainnya, masih di sekitar membangun pendidikan di Pangandaran.

Bermimpilah setinggi langit… Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. ~ Ir. Soekarno

Imagination is more important than knowledge’ ~ Albert Einstein.

Mari kita berkontribusi untuk Pendidikan di Pangandaran dan mari mulai dengan berimajinasi:

BANGUNAN PENDIDIKAN seperti apa yang Anda idamkan yang berdiri di Kabupaten Pangandaran pada Tahun 2019?”

Tuliskan harapan Anda dalam satu atau dua kata!!!


Pembelajaran Menyenangkan : Simultaneous RoundTable

Mei 8, 2013

IMG_3354

 

Aturan Main:

Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, setiap siswa menulis sebuah jawaban pada selembar kertas. Siswa kemudian menyerahkan kertasnya ke teman disebelahnya searah dengan jarum jam. Siswa menambah jawaban/respon terhadap permasalahan yang diajukan pada semua kertas yang diterimanya.

Pada penerapannya yang diputarkan mungkin saja bukan kertas tapi benda lainnya, seperti kartu, kertas gambar, bahan praktek, bahkan laptop, sesuai dengan keperluan pembelajaran guru.

 

Seting awal (dasar):

Setiap siswa memiliki secarik kertas dan pena atau bahan/perangkat lain sesuai dengan keperluan.

 

Langkah-langkah pelaksanaan:

  1. Guru memberikan sebuah topik/pertanyaan/permasalahan/proyek, dan menyediakan waktu untuk berfikir atau mengerjakan masalah/proyek yang diajukan.
  2. Masing-masing siswa dalam kelompok memberikan respon/jawaban/gambar/membangun suatu proyek secara bersamaan. Jadi jika dalam kelompok ada empat siswa maka disana ada empat kertas/kertas gambar/bahan/perangkat lainnya yang dikerjakan oleh setiap siswa.
  3. Guru memberikan tanda jika waktu habis, atau dapat juga siswa mengacungkan jempol jika telah selesai mengerjakan.
  4. Siswa menyerahkan kertas/proyeknya ke teman yang ada di sebelahnya (searah jarum jam).
  5. Siswa menambah respon/jawaban/melanjutkan pekerjaan pada kertas/proyek yang diterimanya (dari teman sebelah).
  6. Diulang dari langkah ke-3 sampai kertas diisi oleh semua siswa dalam kelompok (atau setiap siswa memberikan kontribusi terhadap semua proyek yang dikerjakan).

 

Pada praktiknya guru dapat membuat berbagai variasi untuk menyesuaikan dengan topik pembelajaran atau agar pembelajaran lebih menyenangkan.

Semoga bermanfa’at.

Sumber Pustaka

Kagan, Spencer & Miguel Kagan. 2009. Kagan Cooperative Learning. Kagan Publishing. California, USA.


Pembelajaran Menyenangkan : Agree-Disagree Line-Ups

Mei 7, 2013

line-up

Seting:

Diberikan sebuah pernyataan (statement), selanjutnya siswa berdiri dan mengambil posisi pada sebuah garis dari satu ujung ruang kelas ke ujung lainnya.

Siswa yang paling setuju dengan pernyataan yang diajukan berdiri di ujung satu garis dan yang paling tidak setuju berdiri di ujung yang lainnya. Siswa yang lain berdiri diantara siswa yang paling setuju dan yang paling tidak setuju, siswa menentukan sendiri letaknya menurut “tingkat persetujuan” terhadap pernyataan yang diajukan.

Pernyataan dapat berisi pendapat terhadap suatu permasalahan dalam topik pembelajaran atau bahkan pernyataan berkenaan dengan classbuilding pada KBM.

Berikut ini contoh pernyataan berkenaan dengan topik pada classbuilding pada KBM.

1. Pemberdayaan Siswa

  • Saya merasa pendapat saya diperhitungkan di kelas ini.
  • Para siswa diikutsertakan dalam membuat sebuah keputusan di kelas.
  • Kami memiliki hak suara di kelas ini.

2. Suasana Kelas

  • Pembelajaran ini cukup menyenangkan
  • Saya merasa bebas untuk mengajukan pertanyaan di kelas ini

Semoga bermanfa’at.

Sumber Pustaka

Kagan, Spencer & Miguel Kagan. 2009. Kagan Kooperatif Learning. Kagan Publishing. California, USA.


Pembelajaran Menyenangkan : Spend-A-Buck

Mei 1, 2013

Spend-A-Buck01 Spend-A-Buck02

 

Pembelajaran menyenangkan ini digunakan untuk membuat keputusan dalam kelompok pada pembelajaran kooperatif. Anggota kelompok menggunakan uang koin (atau biar lebih menyenangkan bisa menggunakan uang mainan atau bahkan permen) untuk melakukan voting terhadap pilihan masing-masing. Pilihan dengan  koin terbanyak dianggap sebagai keputusan kelompok.

Seting

Setiap siswa diberikan sejumlah koin yang sama, contoh 10 koin. Tiap-tiap pilihan jawaban ditulis pada kartu yang berbeda atau secarik kertas.

Langkah-langkah:

  1. Letakan alternatif jawaban (kartu pilihan) pada meja kelompok.
  2. Setiap anggota kelompok meletakan masing-masing satu koin pada tiap-tiap kartu pilihan.
  3. Selanjutnya siswa dapat meletakan koin (sisanya) seluruhnya pada satu jawaban atau sebagian koin pada satu jawaban dan koin sisanya pada alternatif jawaban yang lain. Semakin yakin terhadap suatu alternatif jawaban maka siswa semakin banyak meletakan koinnya pada alternatif jawaban tersebut
  4. Tiap-tiap kelompok kemudian menghitung koin pada masing-masing alternatif jawaban untuk menentukan jawaban kelompok.

Catatan:

Jika terjadi seri maka dapat dilakukan eliminasi terhadap jawaban yang palih sedikit dipilih, dan mengulangi langkah 1 – 4 diatas sampai didapatkan jawaban.

Agar siswa aktif maka sebelum (atau sesudah, tergantung keperluan) meletakan koin siswa dapat mengemukakan pendapat atau alasanya kenapa memilih suatu alternatif jawaban.

Semoga bermanfa’at.

Sumber Pustaka

Kagan, Spencer & Miguel Kagan. 2009. Kagan Kooperatif Learning. Kagan Publishing. California, USA.


Informal Cooperative Learning

April 25, 2013

Imägè125

Pembelajaran kooperatif informal dapat diterapkan pada bagian dari suatu pertemuan KBM dimana siswa menjadikan rekan satu kelompoknya sebagai partner. Tipe pembelajaran yang termasuk dalam kategori ini misalnya:

 

Think-pair-share (berfikir-berpasangan-berbagi)

  • Guru mengajukan sebuah pertanyaan, selanjutnya menyediakan waktu bagi siswa untuk berfikir
  • Siswa mengemukakan hasil pemikirannya kepada seorang siswa lain, dalam hal ini setiap siswa bertindak sebagai partner bagi siswa lainnya dalam pasangan yang dipilih/ditentukan sebelumnya.
  • Siswa dalam pasangan tersebut mengemukakan jawaban mereka.

 

Think-write-pair-compare (berfikir-menulis-berpasangan-membandingkan)

  • Siswa menuliskan apa yang telah mereka fikirkan.
  • Siswa membandingkan tulisan hasil pemikirannya dengan seorang siswa lain sebagai partnernya.

 

Write-pair-switch (tuliskan, berpasangan, bertukar)

  • Tiap-tiap siswa bekerja sendiri-sendiri menuliskan jawaban terhadap suatu pertanyaan atau perintah
  • Siswa berpasangan dan mendiskusikan jawaban mereka.
  • Siswa bertukar pasangan (membentuk pasangan baru). Selanjutnya mereka mengatakan kepada pasangan barunya tentang jawaban dari pasangan sebelumnya.

 

Pairs check/check and coach

  • Setelah membahas suatu topik, guru menyiapkan beberapa pertanyaan dalam kertas sebanyak pasangan yang akan dibentuk untuk memeriksa pemahaman siswa.
  • Semua pasangan mengambil daftar pertanyaan tadi dan menjawab pertanyaan tadi secara berpasangan, mereka saling mengajari dan bertanya satu sama lain mengenai jawaban dari pertanyaan tadi.

 

Flashcard game

  • Untuk pelajaran yang perlu mengingat/menghapal maka siswa dapat bermain dalam pasangan menggunakan flashcard. Flashcard ini adalah kartu dimana satu muka berisi pertanyaan dan muka yang lain berisi.
  • Siswa bergantian memperlihatkan satu pertanyaan dan pasangannya mengerjakan jawaban pertanyaan tadi, selanjutnya mereka dapat memeriksa jawaban dengan membuka sisi yang lain dari kartu yang mereka pegang.

 

Timed talking

  • Pasangan siswa diberi peran yang berbeda, katakan peran A dan B.
  • A berbicara selama 60 detik apa yang dipelajarinya.
  • B berbicara selama 45 detik.
  • A kemudian melanjutkan atau merangkum hasil belajar mereka.

 

Sumber

Jolliffe, Wendy. 2007. Cooperative Learning in the Classroom, Putting it into Practice. Paul Chapman Publishing. London.


Resensi Buku “Teknik Mengaktifkan Otak Kanan Manusia”

April 22, 2013

Cover Teknik mengaktifkan otak kanan(1)

Judul Buku: Teknik Mengaktifkan Otak Kanan Manusia; Melalui kekuatan hati dan kekuatan ikhlas yang bersumber dari kekuatan Yang Maha Kuasa

Penulis : Arman Andi Amirullah

Penerbit : Yayasan Masyarakat Indonesia Baru

ISBN: 978-602-9049-15-2

 

Buku ini mengawali pembahasannya tentang penciptaan manusia, yang dengan membacanya kita akan tahu bahwa setiap kita adalah tercipta sebagai manusia yang unggul dan istimewa. Bagi guru penanaman hal ini perlu dilakukan dalam setiap kali ia mengajar siswanya, bahkan guru saat menghadapi siswa harus meyakini bahwa ia berhadapan dengan siswa-siswa yang semuanya adalah ciptaan yang unggul dan istimewa, kemukakan dan aplikasikan hal tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di kelas agar siswa juga dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam keyakinan yang sama.

Selanjutnya penulis membahas kelebihan manusia secara khusus dalam otaknya (otak adalah alam semesta seberat satu kilogram).
“Namun sayang seribu sayang! Bagaimana anak didik kita dapat mengetahui kehebatan otak dan kecanggihan otaknya kalau pendidik dan orang tuanya sendiri tidak mengetahui kapasitas dan kemampuan otak manusia.”

Saat ini diketahui bahwa rata-rata potensi otak manusia yang digunakan hanya sekitar 0,0001% dari seluruh potensi yang dimilikinya.

Pada pembahasan selanjutnya penulis mengarah kepada pembahasan teknis bagaimana mengembangkan potensi otak yang dimiliki manusia dengan mengoptimalkan penggunaan otak kanan. Bagi guru bagian ini sangat penting untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, dalam mata pelajaran apapun yang disampaikannya.

Bahkan peulis juga mencontohkan pengembangan pemanfa’atan potensi otak kanan ini telah diterapkan di sekolah-sekolah seperti di Jepang, hal ini dapat dilihat dari mata pelajaran yang diajarkan yang lebih banyak mengarah kepada seni, kerajinan, keterampilan, etika, dan budaya. DI negara-negara Barat, pelajaran abjad, baca, tulis, hitung baru diajarkan pada usia 8 tahun, sementara di Indonesia sudah diajarkan di TK, yang padahal hal ini akan berdampak pada terbatasnya pemanfa’atan potensi otak pada usia selanjutnya.

Saran saya, sebaiknya para guru membaca buku ini dan selanjutnya mengembangkan teknik pembelajaran yang dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi anak didiknya, bukan saja di kelas saat proses pembelajaran, tetapi juga dalam kehidupan peserta didik di luar kelas dan di masa-masa mendatang yang akan dihadapinya.

Terima kasih, semoga bermanfa’at.